Showing posts with label Articles. Show all posts
Showing posts with label Articles. Show all posts

BERPIKIR DAN BERJIWA BESAR; Membedah pemikiran David J. Schwartz



Oleh: Abdurrahman El-Hafid*

“Anda adalah apa yang Anda pikirkan mengenai diri Anda. Berpikirlah bahwa diri Anda lebih besar, maka Anda pun menjadi lebih besar.”
(David J. Schwartz)


Berpikir dan berjiwa besar, buku terjemahan yang berjudul asli The Magic of Thinking Big adalah buku yang diklaim sebagai buku #1 terlaris dunia yang cukup melambungkan nama David J. Schwartz sebagai seorang motivator yang dapat mempengaruhi banyak orang yang hidup di atas muka bumi ini untuk dapat merubah dunia dengan cara berpikir baru ala Schwartz.
Sebenarnya apa yang sesungguhnya menjadi kekuatan buku ini hingga begitu sensational di mata pembacanya, khususnya bagi para motivator di seluruh pelosok negeri hingga para members dari sekian MLM (Multi Level Marketing) menjadikan buku Schwartz sebagai buku panduan wajib yang harus dibaca oleh para down-line mereka.
Testimoni yang berseliweran atas penerbitan buku ini menjadi teramat berharga bagi marketing produk dari buku ini, terbukti telah dicetak berulang kali sampai  jutaan ribu copy dari buku ini terjual dengan terjemahan beberapa bahasa di seluruh dunia. Beginilah memang kalau sudah jodoh, Schwartz tanpa harus lelah menawarkan bukunya untuk dibaca orang dengan berkeliling dunia, tapi sudah lebih dulu pemikirannya berada di jiwa setiap orang tanpa harus hadir di tempat tersebut, inilah apa yang disebut dengan invisible marketing dalam teorinya.
“14 kalimat pusaka ala Schwartz”, itulah istilah yang penulis pinjam untuk membahasakan pemikiran Schwartz. Dalam 14 Bab Schwartz mengemukakan pendapatnya tentang sebuah mimpi yang dapat terealisasi, ketidakmungkinan yang mungkin terjadi, kelemahan yang menjadi kekuatan, menjadi nomor satu bagi petarung yang merasa lemah, menjadi pemimpin perang walau seorang prajurit, membumihanguskan segala teori kegagalan, ketidakmampuan dan ketidakmungkinan. Yah, buku ini memang seolah hadir dengan pembahasan yang dekat sekali dengan keseharian kita, pembahasan sederhana dengan solusi yang teramat tinggi untuk kita pikirkan, namun dapat terpikirkan dan terpecahkan oleh tempurung kepala Schwartz.
14 kalimat pusaka itu adalah: 1. Percaya Anda dapat berhasil, maka Anda pun akan benar-benar berhasil. 2. Sembuhkan diri Anda dari dalih penyakit kegagalan.3. Bangun kepercayaan dan hancurkan ketakutan. 3. Bagaimana berpikir besar. 5. Bagaimana berpikir dan bermimpi secara kreatif. 6. Anda adalah apa yang Anda pikirkan mengenai diri Anda. 7. Atur lingkungan anda: Gunakan yang kelas satu. 8. Jadikan sikap Anda sekutu Anda. 9. Berpikir benar tentang orang lain. 10. Dapatkan kebiasaan bertindak. 11. Bagaimana mengubah kekalahan menjadi kemenangan. 12. Gunakan tujuan untuk membantu Anda bertumbuh. 13. Bagaimana berpikir seperti pemimpin. 14. Bagaimana menggunakan mukjizat berpikir besar di dalam situasi kehidupan yang paling kritis.[1]

Bahasa yang Schwartz sampaikan begitu sederhana, namun mengapa seolah kalimat-kalimatnya menjadi senjata pamungkas dalam pertarungan melawan musuh bernama kegagalan, malas dan ketidakmungkinan. Ternyata memang Schwartz mengubah cara berpikirnya melalui pendekatan “Mukjizat”, bahasa Schwartz dalam bukunya. Namun istilah ini sangat membumi walaupun ia pinjam dari bahasa langit, yaitu yang lahir dari nilai ketuhanan. Dari 14 kalimat pusaka tersebut, mari kita lihat beberapa di antaranya sebagai bahan diskusi kita sekaligus mengulang kembali memori kita tentang motivasi hidup.

Percaya Anda Dapat Berhasil, maka Anda pun akan Benar-benar berhasil.
Yang ingin Schwartz sampaikan pada pembahasan ini adalah tentang sebuah keyakinan, keyakinan tentang sebuah keberhasilan, keberhasilan yang didasari oleh keyakinan. Begitupula yang ditulis Schwartz, ia memberikan penjelasan bagaimana sesungguhnya kepercayaan itu bekerja. Menurut Schwartz, pada saat kita membangun kepercayaan kita tentang kemampuan untuk melakukan sesuatu, contohnya “Saya dapat melakukannya” dan benar-benar meyakininya, maka secara langsung “bagaimana melakukannya” pun berkembang secara otomatis. Jadi pada kesimpulannya, kalau kita belum memulai sesuatu dengan keyakinan kita, maka sesuatu itu tidak akan terjadi karena kita tidak mengetahui bagaimanan cara melakukannya, namun pada saat kita memulai Sesutu dengan keyakinan, maka secara otomatis kita akan mengetahui bagaimana cara melakukan apa yang kita inginkan.
Pendapat ini memang tepat diserangkaikan dengan beberapa pendapat dalam teori-teori membangun kekuatan berpikir, bahwa kekuatan berpikir pada prinsipnya adalah membangun kekuatan kita dari cara berpikir biasa kepada cara berpikir luar biasa yang orang lain anggap sebuah hal yang mustahil untuk dikerjakan, atau hanya sebuah lintasan pikiran saja[2].
Banyak orang yang terpuruk ketika mereka tidak tau apa yang mereka lakukan, karena mereka tidak memiliki obat kekuatan berpikir tersebut. Sebab memang kekuatan berpikir lahir dari sebuah sikap kritis terhadap gejala perubahan, karena memang semuanya akan berubah kecuali perubahan itu sendiri[3]. Dari sinilah ketika menilai bahwa Schwartz adalah Agent of Change yang dapat menawarkan solusi bagi permasalahan setiap orang tentang kehidupan dengan cara berpikir tersebut.
Sebagian dari kita memang terkadang berlebihan dalam menghadapi pemikiran yang sedikit berbeda, atau dalam kata lain kita malah sering “mengadili pikiran”[4] yang lahir dari track record seseorang yang negative, namun sesungguhnya buah pikiran mereka menjadi bersahabat bagi sebagian orang. Pada saat sebagian orang merasa bersahabat dengan apa yang diyakininya, maka mereka berhak memilih keyakinannya.
Buku Berpikir dan Berjiwa besar ini sangat menarik untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, khusunya bagi Anda yang merasa pada posisi paling terpuruk dalam hidup. Buku ini akan mengantarkan Anda pada puncak dari keberhasilan yang sesungguhnya.


“Cara Terbaik Memprediksi Masa Depan adalah
Dengan Menciptakan Masa depan”
-Peter Drucker-




* General Manager ZERO Training Indonesia, Direktur English Training Service Global Institute, Dosen STIB Banten Raya dan STAI Darul Qolam, Alumni English Programs for Internationals University of South Carolina, U.S.A.
[1] David J. Schwartz, Berpikir dan Berjiwa Besar (Jakarta: Binarupa Aksara, 1996)
[2] Abdurrahman El-Hafid dan M.Isa, The Power of Motivation (Serang: ZERO Publishing, 2009), p.8
[3] Rijalul Imam, Menyiapkan Momentum ( Jakarta: KAMMI Pusat, 2008), p.55
[4] Ahmad Gaus AF, Api Islam Nurcholish Madjid; Jalan Hidup Seorang Visioner (Jakarta: KOMPAS, 2010), p.228

FIQIH DEMONSTRASI

Oleh: Abdurrahman El-Hafidz

Demonstrasi, istilah yang akhir-akhir ini kita sering dengar di berita-berita yang mewarnai layar kaca, di Koran, majalahdan media-media lainnya. Mulai dari urusan perut sampai urusan Negara. Seolah semuanya akan terselesaikan dengan cara berdemonstrasi dan beruunjuk rasa. Mulai dari tukang Koran sampai mahasiswa terus adu kekuatan massa dengan cara-cara tersebut. Secara istilah, demonstrasi ini juga didefinisikan dalam Ensiklopedi Britannic Online memberikan definisi demonstrasi dengan a public display of group feelings toward a person or cause. (tahun 2008).

Demonstrasi juga saat ini menjadi satu lokomotif penggerak setiap permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan jalan damai atau diskusi, akhirnya cara yang tepat menurut para demnstran adalah berdemonstrasi untuk memebrikan show of force kepada hal layak ramai untuk memberikan informasi terkait dengan isu atau permasalahan yang sedang mereka perjuangkan. Akhirnya nilai kepuasan yang mereka lakukan agak sedikit terpenuhi, karena saat ini demonstrasilah yang dianggap jalan satu-satunya memberikan alternative solusi.

Banyak hal positif yang didapatkan dari demonstrasi yang sering dilakukan, terkadang banyak sekali permsalahan yang penting yang dapat terselesaikan dengan jalan ini. Namun, di balik ini smeua masih meninggalkan banyak kesan negative dari deminstrasi tersebut. Mungkin di antara kita masih mengingat peristiwa terakhir demonstrasi yang besar pada tahun 1998, peristiwa yang mengakibatkan trauma yang besar bagi bangsa ini sekaligus perubahan besar dari orde baru ke masa reformasi. Trauma besar yang dialami oleh bangsa ini adalah bagaimana pada saat itu demonstrasi yang dikawal oleh ratusan ribu mahasiswa bahkan lebih dari itu. Karena banyaknya masa yang berkumpul, akhirnya tidak bias terkendali oleh coordinator lapangan pada saat itu, bahkan yang melakukan demonstrasi bukan hanya mahasiswa, tapi juga masyarakat umum. Akibat dari ini semua terjadi penjarahan di mana-mana, dan kerusakan yang mengalami kerugian yang sangat mahal.

Terlepas dari itu semua, maka kita sebagai umat Islam, yang memiliki panduan hidup Al-Qur`an dan As-Sunnah mesti memiliki panduan dari setiap hal yang kita lakukan sehari-hari, termasuk dalam hal ini adalah demonstrasi. Ada tata cara tersendiri atau aturan yang mengarahkan kita dalam berdemonstrasi.

Memaknai Demonstrasi/Muzhaharah kita

Demonstrasi sebagaimana yang disebutkan dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung dua makna. Pertama, pernyataan protes yang dilakukan secara massal atau unjuk rasa. Kedua, peragaan yang dikemukakan secara massal atau bagian atau kelompok. Yang dimaksud dalam tulisan ini adalah yang pertama. Dalam wacana islam demonstrasi disebut dengan muzhaharoh, yaitu sebuah media dan sarana penyampaian gagasan atau ide-ide yang dianggap benar dan berupaya mensyi’arkannya dalam bentuk pengerahan massa. Demonstrasi merupakan sebuah sarana atau alat sangat terkait dengan tujuan digunakannya sarana atau alat tersebut dan cara penggunaanya. Sebagaimana misalnya pisau, dapat digunakan untuk berjihad, tetapi dapat juga digunakan untuk mencuri. Sehingga niat atau motivasi sangat menentukan hukum demonstrasi. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya amal-amal itu terkait dengan niat. Dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh sesuai degnan niatnya. Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu mendapat keridhoan Allah dan Rasul-Nya.Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia dan seisinya, atau karena wanita yang dia ingin menikahinya, maka hijrahnya itu sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Demonstrasi dapat bernilai positif, dapat juga bernilai negatif. Demnstrasi dapat dijadikan komoditas politik yang berorientasi pada perolehan materi dan kekuasaan, dapat juga berupa sarana amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad. Dalam kaitannya sebagai sarana amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad, demonstrasi dapat digunakan untuk melakukan perubahan menuju suatu nilai dan sistem yang lebih baik.

Allah swt berfirman:

Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. (QS 61:9)

Pada ayat di atas, kalimat Liyudzhirohu ‘alad diini kullih (agar diperlihatkan dan dimenangkanNya atas semua agama), menunjukkan bahwa agama Allah yang mulia ini bersifat terang, terbuka jelas dan untuk dimenangkan atau diperjuangkan oleh para pengikutnya. Karena itu muzhoharoh secara bahasa dapat dikatakan memilika dasar Al-Qur’an yang kuat berdasarkan ayat ini.

Sebagaimana pula Rasulullah SAW bersabda:
 Akan senantiasa ada sekelompok orang dari ummatku yang dzohiriina ‘alalhaq (yang memperjuangkan kebenaran). Tidak mencelakakan mereka siapa-siapa yang mengganggu mereka dan musuh-musuh mereka sehingga datanglah hari kiama sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian (HR.Bukhari-Muslim)

Al-Quran dan hadits tidak secara langsung menyuruh kita melakukan muzhoharoh atau unjuk rasa sebagaimana kita pahami sekarang ini, yang diperintahkan adalah menyampaikan kebenaran. Sehingga menyampaikn atau memperjuangkan kebenaran itu hukumnya wajib. Adapun penggunaan bentuk muzhoharoh sebagai unjuk rasa sendiri hanyalah wasilah saja.

Apabila kita melihat pada sirah nabawiyah sebenarnya telah diperlihatkan juga bentuk-bentuk demonstrasi yaitu :
  • Muzhoharoh pernah beliau lakukan terhadap Abu Sufyan, dimana beliau SAW mengharuskan Abu Sufyan untuk melihat kekuatan kaum muslimin, dan beliau memutus jalan baginya untuk  berfikir ulang tentang kemungkinan melakukan kontak senjata dalam melawan kekuatan besar islam. Sebelum peristiwa show of force (idzh har al-quwwah) menjelang fathu Makkah (tahun 8H) ini Rasulullah SAW telah meminta kepada kaum muslimin untuk melakukan umrah qadha’ (tahun 7H) agar mereka dalam thawafnya setengah berlari dalam rangka unjuk kekuatan pula untuk menampakkan kelebih-lebihan mereka dan bahwasannya mereka betul-betul dalam kondisi fisik yang sehat. Yang semua ini bisa dirujuk secara rinci dalam fiqih haji dan buku-buku sirah.
  • Setelah itu, Rasulullah saw mengirim berbagai utusan dan saraya (ekspidisi-ekspidisi militer) ke berbagai wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan Madinah. Di antara sasaran dan targetnya adalah ‘ardhul quwwah (defile atau parade kekuatan). Nabi saw berkata kepada Usamah bin Zaid ra “Injakkan kudamu di bumi Balqa’ (sekarang Syiria)”
  • Seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw mengadukan perihal tetangganya, maka Rasulullah bersabda, “Buanglah perabotmu ke jalan”, lalu orang itupun membuangi perabot rumahnya ke jalan, dan mulailah orang-orang yang lewat melaknati tetangga yang mengganggu itu. Tak lama kemudian sang tetangga itu datang kepada Nabi saw. Lalu ia berkata “Ya Rasulullah, apa yang saya dapat dari manusia?”. Orang itu menjawab :”Mereka melaknati saya”. Rasulullah saw bersabda “Sungguh, Allah swt telah melaknati dirimu sebelum orang lain”. Orang itu berkata :”Saya tidak akan melakukannya lagi”. Kemudian datanglah lelaki yang mengadu kepada Nabi saw, maka Rasulullah saw bersabda: “Ambil kembali barang-barangmu sebab kamu sudah tidak disakiti oleh tetanggamu lagi”
Imam Al Bazzar meriwayatkan hadits ini dengan isnad hasan dengan redaksi yang mirip, hanya saja (dalam riwayat al Bazzar ini) Rasulullah saw bersabda : “Taruhlah perabot rumahmu di jalan atau di atas jalan”. Lalu ia pun meletakkan perabotnya di jalan. Maka setiap orang yang melewatinya bertanya : “Apa yang terjadi pada dirimu?” Orang itu menjawab “Tetanggaku menyakiti diriku”. Maka orang-orang yang melewatinya itu lalu melaknat tetangganya. Lalu datanglah tetangganya kepada orang itu lalu berkata :”Ambil kembali semua perabotmu, saya tidak akan menyakitimu selamanya”
  • Nabi saw dengan para sahabatnya melakukan demonstrasi meneriakkan dan menyerukan tauhid dan kerasulan Muhammwad saw di jalan-jalan sambil menelusuri jalan Mekkah dengan tetap melakukan tabligh dakwah
  • Rasulullah saw dan para sahabatnya melakukan thawaf qudum setelah peristiwa hudaibiyah melakukan demo memperlihatkan kebenaran islam dan kekuatan para pendukungnya dengan memperlihatkan pundak kanan (idthiba’) sambil berlari-lari kecil. Bahkan beliau secara tegas mengatakan saat itu, “Kita tunjukkan kepada mereka (orang-orang zhalim) bahwa kita (pendukung kebenaran) adalah kuat (tidak dapat diremehkan dan dimain-mainkan).

Selain merujuk kepada sirah, terdapat pula kaidah fiqhiyah:
 “Sesuatu hal yang tidak akan tercapai dan terlaksana kewajiban kecuali dengannya maka hal tersebut menjadi wajib”

Para ulama yang dapat dipercaya di abad ini berpendapat “al ashlu fil muzhaharat al ibahah” (hukum muzhaharah adalah boleh), berdasarkan kesesuaiannya dengan maqashid syari’ah yaitu melindungi dan memelihara agama, nasab, harta, jiwa, dan kehormatan. Bahkan bisa jadi hukumnya berubah menjadi wajib jika tidak ada jalan lain untuk melakukan inkarul munkar kecuali dengannya. Sebagai bukti, muzhaharoh ini telah dilakukan oleh para ulama yang  al masyhud lahum (recomended) sepanjang zaman, dan tidak ada seorang ulama lain yang mengingkari para ulama itu tatkala mereka turun ke jalan dalam muzhaharoh tersebut. Muzhaharoh adalah miqyas lirra’yi (alat ukur opini) dan dilakukan dalam rangka men-ta’fil (mengefektifkan) manusia dalam menetapi kebenaran dan mensikapi hal-hal yang menyimpang dari kebenaran.

Di dalam suatu wawancara yang dilakukan terhadap yang mulia DR Muhammad Al Ahmari, salah seorang ulama dan da’i dari Saudi Arabia ada muatan sebagai berikut :
“Awal konstruksi rujulah (kelelakian, kejantanan) adalah kalimatul haq (pernyataan kebenaran) yang diucapkan oleh seorang yang shadiq di hadapan seorang zhalim yang berbuat kerusakan. Dan pernyataan ini akan semakin berkesan dan berdampak kuat manakala disampaikan oleh seluruh rakyat secara lengkap. Dengan demikian, ribuan orang yang menyuarakan dengan lantang suatu kebenaran pada beberapa kota islma dan kota-kota non islam pada hari-hari ini (situasi saat fatwa ini keluar) menyiratkan kesatuan dan kekuatan.

Jadi kalimatul haq merupakan kewajiban sekaligus harus menjadi syi’ar. Jika menampakkan kegembiraan pada hari raya dan menghimpun orang pada hari itu adalah sunnah, termasuk di dalamnya menghimpn orang-orang yang tidak diwajibkan dan tidak disunnahkan shalat, lalu ia keluar dalam rangka taktsir sawad al muslimin (menunjukkan kuantitas kaum muslimin), dan dalam ragka mengungkapkan rasa kegembiraan mereka semuanya, lalu, mengapa kita tidak berdiri dan bersikap bersama saudara-saudara kita yang menderita disebabkan berbagai macam siksaan, yang kampung halaman mereka diratakan, harga diri mereka diinjak-injak serta anak istri mereka dibunuhi (Islam Online).

Beberapa patokan syar’i saat melakukan aksi demonstrasi / muzhaharoh

Ada beberapa dhawabith yang harus menjadi perilaku seorang muslim saat melakukan muzhaharat, sebagaimana yang disebutkan dalam fatwa Syaikh Shalih Al-Munajjid (imam dan khatib masjid Umar bin Abdul Aziz di Al Khobar, Saudi Arabia) :
“Tidak mengapa kaum muslimin berhimpun dan keluar dalam bentuk muzhaharah untuk mengingkari perkara tertentu, memproklamirkan penolakan mereka terhadapnya dan menuntut adanya campur tangan dalam mencegahnya, jika cara ini berguna dan bermanfaat dengan syarat tidak masuk dalam berbagai hal yang diharamkan, misalnya :

1.      Keluarnya kaum wanita secara tabarruj (bercampur baur, dan berhimpitan)
2.      Mempergunakan suara-suara dan perbuatan-perbuatan yang kontradiksi dengan adab-adab islam saat muzhaharah
3.      Menyerukan yel-yel yang tidak benar, seperti : Al-Qudsu (Baitul Maqdis) adalah negeri Arab dan tetap akan menjadi negeri Arab, yang benar adalah Baitul Maqdis adalah negeri Islam dan bukan milik orang Arab saja.
4.      Berdirinya kaum demonstran di hadapan kuburan seorang kafir atau meletakkan karangan bunga di atas kuburannya
5.      Tawassul dan tadzallul (menghinakan diri) dengan ungkapan-ungkapan yang merendahkan kaum muslimin.
6.      Menzhalimi orang lain, seperti : menutup jalan, dan mematikan lampu lalu lintas.
7.      Mempergunakan pola caci maki, dan celaan-celaan yang tidak diperbolehkan secara syar’i
8.      Ikhtilath (bercampur baurnya) laki-laki dan kaum wanita saat berlangsungnya muzhaharah.
9.      Menyerupai orang-orang kafir pada salah satu hal dari karakteristik mereka, baik dalam berpakaian, atau isyarat-isyarat yang mereka buat, atau pakaian yang harus dikenakan oleh para demonstran muslim dari pihak mereka
10. Melanggar kepemilikan orang-orang tidak berdosa, seperti : menghancurkan tempat perdagangan mereka, atau membakar api di fasilitas umum dan hal-hal haram lainnya

Maraji’ :
Fiqih Demonstrasi, Aus Hidayat Nur
Fatwa-Fatwa Dewan Syariah Pusat Dakwah







FIQIH POLITIK IAIN “SMH” BANTEN


Oleh: Abdurrahman El-Hafid*

Fiqh, istilah hukum Islam yang diterapkan untuk menentukan suatu hukum dalam berbagai macam perkara umat yang berdasarkan atas Al-Qur`an dan As-Sunnah. Mulai dari Fiqh Ibadah, Mu`amalat, Munakahat sampai Fiqh Prioritas. Ini semua adalah produk hukum untuk mengatasi problematika keumatan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, kali ini kita tidak membicarakan tentang istilah “Fiqh” yang “ekstrim” itu, yang dikaji secara sistematis lewat pesantren-pesantren atau bangku sekolah dan kuliah. Kali ini kita akan mengenal lebih dekat dengan warna politik di IAIN “SMH” Banten. Belajar aturan main bagaimana perpolitikan di IAIN SMH Banten dimainkan.
IAIN “SMH” Banten, Kampus yang dianggap sebagai “Madzhab Pergerakan Ciceri” menjadi sentral pergerakan Mahasiswa di Banten setelah “Madzhab Pergerakan Pakupatan” yaitu UNTIRTA. Maka wajar banyak kebijakan pergerakan yang dimulai dari Kampus IAIN “SMH” Banten, baik di dalam maupun di luar Kampus.
Atmosphere politik internal kemahasiswaan di IAIN SMH Banten sangatlah kental dan penuh dengan intrik politik. Banyak alasan yang menyebabkan itu terjadi. Pertama,Pimpinan organisasi Eksternal dan Primordial (kedaerahan) di teritorial Banten kebanyakan adalah Mahasiswa di IAIN “SMH” Banten, jadi sangatlah wajar kalau mereka mencurahkan praktek politiknya di Kampus IAIN SMH Banten, tempat mereka dilahirkan sebagai seorang Aktivis. Kedua, sistem organisasi kemahasiswaan di IAIN SMH Banten adalah SG (Student Government) atau pemerintahan mahasiswa. Istilah ini adalah penerapan dari sistem Trias Politica yaitu Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.
Penerapan Student Government sebagai satu miniatur bentuk kenegraan yang sesungguhnya mengalami pergeseran nilai di Kampus IAIN “SMH” Banten. Hal ini terjadi karena Lembaga Yudikatif yang ada di lingkungan pemerintahan kecil kemahasiswaan tidak ada. Maka wajarlah kalau segala permaslhan kriminalisasi tidak banyak yang terselesaikan dengan baik, bahkan menyebabkan benturan fisik.
Dua alasan inilah yang melahirkan suasana pembelajaran politik yang sangat lur biasa, tak bedanya dengan politik praktis di luar Kampus. Implikasi dari alasan yang pertama adalah bahwa kepemimpinan organisasi eksternal dan primordial di wilayah Banten yang dipegang oleh Mahasiswa IAIN SMH Banten menjadikan kepemimpinan individu yang matang karena mereka sering bersentuhan dengan banyaknya organisasi di luar Kampus. Bagi mereka, eksistensi organisasi yang mereka pimpin di luar harus juga memiliki “nama” di lingkungan dalam Kampus. Atas dasar alasan itulah pertarungan sehat antara organisasi eksternal kampus bermain di wilayah pemerintahan Negara kecil bernama IAIN “SMH” Banten. Maka, aturan “Fiqh” yang bermain adalah, setiap pimpinan organisasi eksternal mestinya menjalin hubungan baik dengan para pimpinan yang lain, agar gesekan negative yang terjadi dapat diminimalisir. Karena biasanya setiap terjadi konflik antar organ eksternal maupun internal, maka jalan keluar yang diambil adalah berdamai. Jalan ini biasanya karena mereka pernah berteman dengan baik, aatau ada ikatan kekeluargaan dan banyak juga yang dikarenakan berasal dari satu daerah yang sama. Maka jalan perdamaian tersebut dapat ditempuh.
Sedangkan implikasi dari alsan yang kedua adalah: Sistem Student Government, yang sejak awalnya merupakan satu solusi dari pembagian kekuasaan antara eksekutif, yudikatif dan legislative menjadi wadah pendidikan yang bernuansa politik. Mekanisme penenmpatan SDM di pemerintahan Kampus seperti BEM Institut, Bem Fakultas, dan DPM dipilih langsung oleh Mahasiswa yang melalui “annual ceremony” Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM). Sementara itu, produk undang-undang yang digunakan adalah produk yah sah yang diparupurnakan oleh Legislatif melalui undang-undang PUM dan Partai Politik.
Moment yang besar ini tidak dibiarkan begitu saja oleh mahsiswa yang sedang haus dengan ilmu dan pengalaman, maka mereka juga berusaha mengambil bagian dalam acara tahunan PUM tersebut. Partai-partai yang didirikan dan didaftarkan membawa nama-nama kader pemimpin yang pernah aktif di organisasi eksternal maupun internal. Hal ini juga beririsan dengan alasan pertama tadi.  
Suasana politik yang terjadi pada saat PUM membuat politik termat lucu dilihat, senyum mulai melebar, setiap partai berusaha mendekati partai lain, bahkan memberikan tawar menawar kekuasaan dengan “iming-iming” jabatan. Mereka yang punya gesekan kepentingan sebelumnya seolah-olah melupakan permaslahan mereka untuk sejenak demi tercapainya komunikasi politik yang baik. Atas nama kepentingan itulah politik menjadi tidak ada lawan atau kawan yang sejati, yang ada adalah kepentingan yang sejati.
Pasca kepemimpinan sudah jelas mataharinya (red:hasil PUM sudah ketahuan), disitulah mulai bermain para pejabat kampus. Yang kalah menekan dan meng-intimidasi yang menang, yang menang mengatur strategi untuk menenagkan yang kalah. Hal ini tergantung dari warna ideology pergerakan, sebab aktivitas mereka tidak terlepas dari ideology gerakan. Tidak semua yang kalah menerima dan tidak semua yang menang bahagia.
Begitulah kondisi yang sedang, telah dan mungkin akan terus terjadi selaa sistem pemerintahan Kampus belum diperbaiki. Dari bagi-bagi hasil kekuasaan, bias jadi antara pehabata Eksekutif dan Legislatif dari warna yang berbeda, maka terjadilah konflik turunan dari akar permasalahan. Walaupun Eksekutif di bawah Legislatif, tetapi jabatan eksekutif institut masih dianggap prestigious bagi kultur politik di IAIN “SMH” Banten.










* Presiden Mahasiswa IAIN “SMH” Banten 2009-2010
   Majelis Pertimbangan Partai MAWAR Sejati

ORGASME LIBERALISME KAUM MUDA

Oleh: Abdurrahman El-Hafid

Liberalisme, mengalir dan laku dipasaran pojok diskusi bak kacang goreng. Sindiran miring dan aneh menjadi bahan diskusi bagi makhluk bernama Liberalisme. Mereka dengan enak mengatkan bahwa liberalism adalah aliran sesat bagi perkembangan Islam di Indonesia. Aku tak mengerti, kegundahan hati ini. Mengapa lisan ini yang sering mengutarakan kebobrokan faham liberalisme di dalam Islam malah seolah goyah dengan banyak literasi yang sedang aku teliti. Aku telah menyampaikan bayak hal kepada hal layak ramai tentang mereka yang terjerumus ke dunia liberalisasi pemikiran, Namun, kenapa kini aku lebih suka melihat mereka, membaca mereka, berimajinasi untuk melakukan hal yang sama seperti pendahulu di jaringan Islam liberal tersebut.

Kegundahan hati ini aku ungkapkan sebagai hijrahku untuk menjadi bagian dari perubahan umat ini, apakah semua yang aku lakukan menjadi amal yang sia-sia. Semua tidak bias menjawabnya. Ini adalah orgasme yang sudah memuncak dalam diri ini untuk memuncratkan cairan liberalisasi dari diri seorang anak muda yang sedang gila dengan faham tersebut. Istilah Liberalisme, pluralisme dan humanisme seolah menjadi sahabat bahan bacaan setiap hari, tidak ada yang renyah dan enak dibaca selain karya-karya Abdurrahman Wahid, Jalaluddin Rahmat, Nurcholis Madjid, Komaruddin Hidayat, Azyumardi Azra, Harun Nasution, Ulil Abshar Abdalla, Anand Kreshna, Charles Kurzman dan mereka-mereka yang luar biasa dalam pemikiran yang menembus batas.

Sampai detik ini, hati masih merasa gundah, apakah kebenaran yang hakiki dari pemikiran Islam. Mereka yang dianggap sebagai kaum yang nyeleneh, tetapi kenapa membawa angin segar bagi pemikiran diri ini. Selalu saja pemikirannya membawa diri ini pergi jauh dari kejumudan pemikiran ortodoks di dalam Islam. Menebus tradisi lama dan Turats dalam kajian klasik Islam. Inilah saatnya menuju Islam baru dengan pemikiran baru. Toh mereka telah membuktikan satu perspektif baru di dalam Islam. Orang lebih banyak berminat dan belajar dalam Islam, karena Islam kita adalah Islam mereka juga.

Warna pluralisme dalam beragama lebih dimunculkan, karena memang Islam adalah rahmatan lil `alamin. Jadi kalau kita memunculkan Islam dalam bentuk yang sangat sakral sebagai agama, maka nilai sosial Islam akan dimarjinalkan sampai kapan pun juga. Kini saatnya perubahan paradigma berpikir di dalam Islam harus dimunculkan. Tak lepas pula dari bagaimana hubungan kemanusiaan atau Humanisme menjadi arah kebijakan baru di dalam Islam. Bukan lagi terpaku pada hukum klasik yang belum tentu kebenarannya. Maka, pintu ijtihad gaya modern harus diperjuangkan sebagai pintu membuka pemikiran baru generasi baru yang sedang haus akan ilmu pengetahuan.

Islam, adalah agama samawi yang sejak turunnya membawa kontroversi bagi kaum jahiliyah menjadi catatan besar kaca mata sejarah Islam, bahwa kalau saat ini Islam banyak menuai kontroversi dengan kelahiran agama baru yang mereka anggap `sesat`, maka seharusnya ada evaluasi besar-besaran deng reideologisasi di dalam Islam agar tidak ada alternative agama yang akan mewadahi segolongan kaum yang tidak terwadahi oleh pandangan hukum “Islam klasik”.

Islam klasik yang dimaksudkan adalah Islam yang hanya manut pada ajaran-ajaran yang lama, yang mengajarkan kepatuhan kepada hukum yang sudah ketinggalan zaman dan tidak lagi relevan dipergunakan pada saat ini. Penafsiran kembali pada ayat-ayat tertentu di dalam Al-Qur`an untuk disesuaikan pada zaman sekarang adalah merupakan satu hal yang diperbolehkan asal mengikuti aturan main dan persyaratan sebagi seorang penafsir Al-Qur`an dan rujukan klasik lainnya. Tapi kalau kita sudah tidak lagi berani memperbaharui kondisi kemajuan zaman yang sudah semakin berkembang ini, maka lambat laut Islam menjadi agama yang lumpuh, yang tak mampu menjawab tantangan zaman.

Sampai pada titik kelumpuhannya, maka pemakzulan agama menjadi hal yang mungkin, dan alternative agama yang ditawarkan oleh segolongan kaum menjadi satu tawaran yang menarik untuk disajikan. Maka wajarlah kalau kelumpuhan umat Islam saat ini sudah banyak bermunculan tanda-tandanya. Inilah wasilah kemunculan pemikiran baru dari kaum muda yang sudah tidak kuasa memuncratkan pemikiran liberalnya demi Islam lebih baik.(05/01/10)

UNTUKMU GUS DUR

Mengenang 7 hari wafatnya K.H Abdurrahman Wahid (30 Desember 2009)

Oleh : Abdurrahman El-Hafid


Di penghujung akhir tahun 2009, namanya menjadi harum oleh jalan terakhir dalam kehidupan ini. Itulah jalan yang bernama “kematian”. Jalan itulah yang memisahkan jasadnya dengan ruh. Menuju kembali kepada asal muasalnya sebagai makhluk yang berasal dari tanah dan kembali kepada tanah. Namun, Jasad dan Ruhnya boleh berpisah dan kembali kehadirat-Nya, tetapi buah pemikirannya tidak akan pernah mati dan terkubur. Ia akan selalu lahir dan berkembang dengan pemikiran baru yang fresh bahkan lebih fresh dari hidupnya.


K.H Abdurrahman Wahid, hidupnya penuh kontroversi. Pemikirannya lebih teramat maju dari bangsa ini. Terkadanag celotehnya berujung pada perdebatan panjang umat ini, namun ungkapannya bisa terjawab setelah berjalan lebih lama. Dan pada saat itulah orang-orang baru sadar kalau statementnya adalah benar. Opini dan gagasannya tentang Pluralisme dan Demokrasi menjadi darah segar para pemburu dan pecinta Pluralisme dan Demokrasi di Indonesia. Tokoh yang lahir dari darah biru penyambung warna pesantren dengan modernitas ini membawa pengaruh besar terhadap kemajuan umat ini. Orang boleh mencemooh pemikirannya semasa beliau hidup, namun kematiannya meninggalkan kesan tersendiri bagi mereka yang pernah mencemooh. Mereka akan merasa kehilangan sparing partner, teman diskusi, berdebat dan bercanda ala Gus Dur.


Tokoh bangsa yang menjadi kandidat pahlawan Nasional ini benar-benar meninggalkan kesan bagi bangsa ini. Pria yang sejak berusia 14 tahun sudah mengenakan kaca mata ini benar-benar menginspirasi ratusan ribu santri di Indonesia dan lebih banyak lagi pengikutnya yang bangga akan pemikirannya dan gagasannya yang menembus batas orang biasanya. Wajarlah, karena beliau adalah cucu dari seorang ulama besar pembawa gerakan Islam di Indonesia dan pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama yaitu K.H Hasyim Asy`ari.


Dari K.H Hasyim Asy`arilah lahir K.H Wahid Hasyim sebagai seorang ulama terkemuka yang memiliki peran penting dalam kemerdekaan bangsa ini dengan keterlibatannya dalam Piagam Jakarta. Kemudian menjadi Menteri Agama pertama di Republik ini. Garis keturunan Gus Dur inilah yang membawa Gus Dur menjadi sosok yang fenomenal di kalangan santri dan umat seluruh Agama di Indonesia. Bagi kalangan santri, Gus Dur adalah satu-satunya santri yang menjadi Presiden di Republik ini. Bagi kalangan umat beragama, Gus Dur adalah tempat yang tepat untuk mengadu kegelisahan mereka untuk tinggal di Negeri mayoritas beragama Islam ini. Namun Gus Dur memiliki kepribadian yang plural dalam menerjemahkan Islam, oleh karena itulah ia juga sempat menulis sebuah buku yang berjudul Islam Kita, Islam Anda.


Penulis yakin, banyak hal yang dikenang dari seorang Gus Dur, banyak pula keinginan yang penulis ingin torehkan dalam tulisan ini. Sosok beliau menghantui otak penulis paska Gus Dur meninggal dunia. Penulis juga membongkar kembali tulisan-tulisannya dalam sebuah jurnal atau majalah Prisma yang diterbitkan oleh LP3ES pada tahun 1984. Tulisan yang hampir sudah punah, namun penulis mendapatkannya sudah cukup lama dan belum pernah dibacanya. Terbitan tahun 1984, 4 tahun sebelum penulis lahir, ia telah menjelma menjadi manusia pemikir dan pejuang yang sangat luar biasa. Terlihat dari tulisan-tulisannya yang begitu ringan membahas tentang social, politik, kemanusiaan, demokrasi dan banyak hal dalam kehidupan yang ia sentuh dari sudut pandang berbeda seorang Abdurrahman Wahid.


Ingin rasanya menjelmakan diri menjadi Gus Dur yang baru. Hidup dalam pemikirannya yang menembus batas orang biasanya. Bergerombol pada ilmu pengetahuan, bercinta pada buku lebih ia cintai dari pada istrinya.


Aku persembahkan tulisan ini untukmu “Abah Yai”, Do`aku menyertaimu. Aku akan lahir menjadi “The New Gus Dur” lewat pemikiran-pemikiranmu dan jejak kehidupanmu, santri yang menjadi Presiden di Republik ini. Selamat jalan sang tokoh pluralis, humanis dan liberalis….(05/01/2010)

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates