Showing posts with label Serial Keislaman. Show all posts
Showing posts with label Serial Keislaman. Show all posts

HARGA BAGI “KELAHIRAN SEJARAH” UMAT KITA

Oleh : Abdurrahman El-Hafid


Sejarah selalu berulang, hanya pelaku sejarahnya saja yang berbeda. Setiap perjalanan sejarah umat ini, selalu memberikan tanda dan warna bagi pemeluknya. Konsekwensi logis harga bagi “sejarah kelahiran” umat kita adalah teramat mahal. Boleh jadi kita menjadi bagian dari sejarah tersebut, atau kita sedikitpun tidak pernah terkenang, atau bahkan yang tak berjasa malah memiliki nama dalam sebuah sejarah. Yah begitulah karakteristik sejarah, penulisannya, penelusurannya terkadanag berbeda dengan kenyataannya. Namun, begitulah harga yang dibayar untuk kelahiran umat ini.


Muhammad, nama yang saat ini menjadi icon percontohan umat Islam dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, menjadikan Muhammad menjadi sosok yang berbeda dari yang lainnya. Terlihat sangat sempurna, bahkan tidak bisa dilukiskan wajah dan postur tubuhnya dalam penerjemahan konkrit visual. Inilah sisi yang saat ini terbaca oleh kita, namun sesungguhnya ada hal yang perlu dibayar sangat mahal oleh makhluk bernama Muhammad.


Lihatlah sejarah kemunculan Muhammd di zaman Jahiliyah atau zaman kebodohan. Muhammad hadir dalam posisi yang dianggap “Ghorib” atau aneh oleh bangsa jahiliyah pada saat itu. Kenapa bisa dikatakan aneh, karena Muhammad hadir untuk merubah tatanan social yang saat itu ada. Mereka (red.kaum jahiliyah) merasa kehadiran Muhammad telah mengganggu kestabilan kehidupan mereka. Adalah wajar kalau mereka mengangap Muhammad adalah bocah nyeleneh bagi masyarakat jahiliyah saat itu.


Bukan Muhammad namanya kalau menyerah begitu saja, Ia terus dakwah mengumandangkan lewat keluarganya terlebih dahulu kemudian dakwah terang-terangan. 23 tahun, waktu yang cukup lama yang dihabiskan selama 10 tahun di Madinah dan 13 tahun di Mekkah menjadi harga yang sangat mahal untuk kelahiran sejarah umat ini.


Saat ini, kita dapat membaca bagaimana indahnya perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan serta menegakkan Islam di seantero bumi ini. Apakah sejarah umat ini didapatkan dengan jalan dan cara yang mudah? Tentunya tidak demikian. Ada harga yang perlu dibayar untuk kelahiran sejarah umat ini.


Bagi kita saat ini hanya menentukan tujuan kita, apakah kita mau mengambil bagian dari sejarah kelahiran umat yang selanjutnya, atau kita mati tergilas oleh sejarah itu sendiri. Sejarah akan terus lahir, dan tokoh dalam sejarah itulah yang berbeda.(05/01/2010)

POTRET SALAF; Menciptakan `Syurga` Dengan Membaca

Oleh : Abdurrahman El-Hafid

Bacalah! : Sebuah Pesan dari Langit

Membaca adalah pesan langsung dari langit, penuh makna mengawali perjalann suci ke-Rasul-an Muhammad dengan diturunkannya ayat “Bacalah!” dalam wahyu pertama Al-Qur`an surat Al-Alaq. Inilah interpretasi menyelam pengetahuan di lautan tanpa basah, melihat galaxi di langit tanpa terbang, mengetahui isi tubuh kita tanpa masuk dan dioperasi, merasakan gawatnya perang diponogoro dengan membaca, kita bisa tau perjalanan hijrah Nabi dengan membaca, berada dimana saja tanpa bergeser dari tempat duduk dengan membaca. Dunia ini bisa kita genggam kalu mata kita cinta baca.

“Bacalah!”[1] kalimat ini mengawali perjalann sejarah manusia ke depan, mengawali sebuah peradaban baru, menerobos nilai-nilai kejahiliahan, menggema untuk merubah sebuah kebiasaan. Indahnya Al-Qur`an, mengawali sejarah turunnya wahyu dengan pesan yang mengandung makna terdalam dalam hidup. Padahal waktu itu Rasulullah SAW adalah orang yang ummi, namun inilah Allah yang maha mengetahui dari apa yang kita tidak ketahui. Aktivitas membaca bukanlah pesan kosong dari para pecinta buku, namun ini adalah pesan dari langit yang melalui malaikat Jibril disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.

Karena membaca adalah pesan dari langit, maka begitu pulalah apa yang telah dilakukan oleh para pewaris para Nabi, yaitu para salafussalih yang seluruh hidupnya dihabiskan dengan membaca. Mari kita belajar dari potret hidup mereka, potret spirit of reading yang begitu tinggi dan menempatkan membaca dalam posisi yang sangat mulia sebagaimana pesan dari langit.


Bersama buku hingga di surga

Al-Hafizh Abul Ala` Al-Hamadzani seorang ulama terkemuka di Baghdad yang begitu cinta dengan ilmu, menghabiskan waktunya untuk membaca dan terus membeli serta mengoleksi buku. Beliaulah ulama yang diriwayatkan pernah bermimpi berada di suatu kota yang sangat indah yang semua dindingnya terbuat dari buku. Di sekelilingnya juga banyak buku yang memenuhi ruangan tersebut. Pada saat itu ada yang bertanya kepada dirinya, “Ada apa dengan buku-buku ini?” Ia menjawab, “Saya pernah memohon kepada Allah agar Dia menyibukkan saya dengan kesibukan yang pernah saya lakukan di dunia, dan Dia pun mengabulkannya di Surga”.

Begitulah kecintaan seorang ulama terhadap buku-buku yang dibacanya, sampai kecintaannya mengantarkan dirinya menebus mimpi berada di surga bersama buku.

Teman sepanjang hidup

Abu Abdullah bin Al-A`rabi, seorang penulis buku terkenal bernama Al-Gharib. Ia pernah ditanya tentang pendapatnya, “Siapakah orang yang membuat Anda merasa bahagia dan senang?” Maka, ia pun memegang buku-bukunya, lalu berkata, “Buku-buku ini” Kemudian, ia ditanya lagi, “Dari kalangan manusia?” Ia menjawab, “Orang-orang yang ada di dalamnya.” Lalu ia bersyair :

Bukuku adalah teman yang tak pernah bosan mendampingi

Ketika hartaku menipis, ia tetap bermuka manis

Bukuku adalah kekasihku, saat semua kekasih telah tiada

Senantiasa ia kurayu sekiranya ia faham rayuanku

Bukuku adalah rekanku, tak pernah ku hawatir ia kan bosan

Ia selalu berbincang denganku dan tak pernah takut aku kan merasa bosan

Kitabku adalah lautan yang tak pernah berkurang pemberiannya

Ia senantiasa menghamburkan hartanya untukku saat hartaku berkurang

Kitabku adalah penunujuk jalan bagiku menuju tujuan yang terbaik

Ia senantiasa membimbinngku, dan ia adalah yang mengarahkan.

(Kitab Taqyidul-`Ilmi, hlm.125)

Begitu Al-Arabi, menjadikan buku sebagai teman sejati dalam hidupnya, mebaca dan terus membaca, mengantarkan dirinya menemukan teman sepanjang hidup, bersyair menjadi pecandu buku, perindu syurga, karena membaca adalah pesan dari langit.

Selama 40 tahun tidur bersama buku di dada

Kisah yang tidak kalah menginspirasinya adalah kisah seorang ulama terkemuka yang selama 40 tahun menghabiskan umumrnya dengan tidur bersama buku di dadanya. Ialah seorang ulama masyhur sahabat Imam Abu Hanifah bernama Al-Hasan Al-Lu`lu`I Al-Kufi. Dikisahkan di dalam kitab Al-Hayawan, Al-Jahiz berkata, “Saya mendengar Al-Hasan Al-Lu`lu`I berkata, `Selama 40 tahun saya tak pernah istirahat siang, tidur malam, ataupun berbaring melainkan di atas dada saya ada buku.”


Subhanallah, yang telah menciptakan makhluk seperti Al-Hasan Al-lu`lu`I, memberikan motivasi bagi kita untuk selalu menjadikan buku dan aktivitas membaca sebagai teman tiap detiknya dari umur kita.


Beginilah potret para ulama salaf yang begitu cinta terhadap buku dan aktivitas membaca. Masih banyak ulama-ulama besar yang begitu cinta terhadap buku. Seperti ulama bernama Abdul Ghani yang matanya rabun karena kebanyakan membaca dan menelaah buku. Ibnu tabban, yang menghabiskan seluruh malamnya hanya untuk membaca. Kemudian juga ada ulama yang bersedih sepanjang hidupnya hanya karena menjual buku-bukunya, ia bernama Abul Hasan Al-Fali. Atau juga seperti Al-Mustanshir billah Abul Ash Al-Hakam bin Abdurrahman Al-Umawi (Sang Penakluk Andalusia) yang gemar sekali membaca dan mengoleksi buku, hampir 200.000 buku ia miliki dan sudah dibaca.


Segelintir kisah para ulama dan Salafusshalih tersebut adalah pecut untuk kita semua, sejauh mana kita mencintai buku dan aktivitas membaca. Mereka sebagai tonggak perjalanan peradaban ini, dan kita adalah pemilik sah dari peradaban ini. Mau dibawa kemana peradaban ini tergantung apa yang kita miliki saat ini, karena kita adalah apa yang kita baca.


Ternyata, membaca bukanlah hanya sekedar sebagai hobi, melainkan sebagai konsep hidup seseorang. Karena membaca dapat mempengaruhi pola pikir, pandangan bahkan prilaku. Diri kita sebenarnya adalah apa yang kita baca. Ketika orang itu banyak membaca buku tentang ekonomi dan bisnis, maka akan lahir benih pandangan untuk berbisnis. Begitu juga ketika kita banyak membaca buku-buku tentang biografi para tokoh, maka terkadang kita ingin sekali menjadi tokoh tersebut dan meniru tingkah laku serta kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.


Inilah buku, ruhnya dapat masuk ke alam bawah sadar manusia, mengrogoti setiap pemikiran yang dangkal. Orang bisa jadi sesat dan liberal karena baca buku, dapat menduduki kedudukan paling tinggi pun karena membaca buku. Begitulah tafsir modern tentang Bercinta dengan buku.


Kalau ada pertanyaan kita mau pilih kue atau buku, maka mungkin banyak orang yang memiliki kue, karena kenikmatan rasa kue yang akan langsung dinikmati. Tapi sebenarnya, kalau kita memilih kue, maka setelah kue habis dimakan kita hanya akan mendapatkan kenikmatan sesaat, kemudian rasanya akan hilang seiring habisnya kue tersebut. Namun, apabila kita memilih buku, maka boleh jadi kita akan merasakan nikmatnya buku sampai kapan pun. Apalagi kalau bukunya berisi tentang cara membuat kue, kita malah akan menciptakan banyak kue yang dapat kita makan. Maka tak salah kalau buku yang kita pilih bung!


Gerakan Masyarakat Gemar Baca

Orang-orang Eropa yang mayoritas beragama yahudi dan nasrani sedang berpikir dan berlomba-lomba agar bagaimana caranya perpustakaan buku mereka lebih besar dari rumah-rumah mereka. Mereka telah mendahului kita, padahal pesan membaca milik kita dan membumi di agama kita.

Sebenarnya, kalau kita mau kita juga bisa melakukan apa yang sedang mereka lakukan tentang ilmu dan buku. Hanya saja terkadang kita menjadi umat yang sombong, yang tidak mau mengakui kesalahan kita.

Marilah mulai saat ini kita membangun komunitas-komunitas membaca, jadikan rumah kita menjadi majelis membaca. Jadikan pojok-pojok kosong dari masjid, pasar, kebun, halaman, kamar dan kampung kita ramai dari aktivitas membaca. Demi hidup lebih baik....!



1 QS.Al-Qalam : 1

Article; Meninggalkan Jejak-Jejak Kehidupan

MENINGGALKAN
JEJAK - JEJAK KEHIDUPAN

Oleh : Abdurrahman El-Hafid*

Beginilah episode kehidupan, setiap dari potongan adegan-adegannya melahirkan suatu ceritera yang baru. Setiap keinginan idealnya terjadi sebagai bukti, setiap harapan idealnya terealisasi sebagai saksi, setiap kita memiliki keinginan dan harapan itu yang idealnya terjadi.

Bait-bait kehidupan menyayikan banyak sajak yang tak pernah kita tau maknanya. Kita hanya berharap sajak-sajak itu akan dikenang oleh orang, akan dimaknai oleh orang lain walaupun pembuat sajak itu telah jauh pergi meninggalkan kertas karyanya. Mereka begitu terasa dekat, walau hanya tinggal karya. Namun, itulah hidupnya setelah matinya. Meninggalkan segala nilai yang berisi.

Di balik itu semua ternyata sepenggal kisah anak zaman terkuak dalam sebuah obrolan kecil ala masyarakat kuno. Yang mati boleh mati meninggalkan dunianya, yang lahir boleh hidup menuju dunianya, tapi amalnya tetap ada dalam mati dan lahirnya.

Berikanlah oleh-oleh yang paling berharga, tinggalkanlah warisan yang paling bernilai, sesungguhnya untuk kembali ke sesuatu membutuhkan sesuatu untuk kembalinya, dan untuk meninggalkan sesuatu lebih penting dari apa yang kita tuju. Kita hidup untuk kembali ke Dzat yang maha hidup, dan untuk kembali kepada Allah kita membutuhkan bekal amal shalih sebagai perantara menuju ke-Ridhaan-Nya. Dan amal shalih itu, ada yang dibawa serta ada yang ditinggalkan. Yang dibawa akan terasa di bumi harumnya, yang ditinggalkan akan terasa di langit harumnya.

Inilah makna sesungguhnya dari memaknai kehidupan. Apa yang kita tinggalkan yang dimanfaatkan oleh orang lain akan menjadi tambahan pahala yang mengalir, akan menjadi saksi dan bukti kalau kita pernah meninggalkan jejak di bumi para pencinta. Tapi tidak semua dari kita berhasil meninggalkan jejak-jejak itu di dunia, banyak yang gagal karena niat.

Sesungguhnya, keihklasanlah yang menjadi sarana untuk menabur bunga yang harum dalam kepergian kita nanti. DR. Ali Al-Hammadi, seorang kepala Ad Daqiqoh Al Wahidah Center dan Direktur Creative Thinking Center di Dubay pernah mengatakan : ” Al ikhlash fillah (ikhlas karena Allah swt) dan al isti’anatu billaah (memohon pertolongan kepada Allah swt) itu adalah dua kunci utama yang paling menentukan dalam pengaruh.

Dua kunci inilah penentu bagi jejak - jejak kita di bumi...Apakah kita telah ada dalam bagian keihklasan dan pertolongan itu?

Rawa Bokor Tangerang-Banten (Oct 19, 2008/10:29)


* (Member of English Program For International University of South Carolina, U.S.A)

Article ; Menata Kembali Taman Iman Kita

MENATA KEMBALI TAMAN IMAN KITA
Oleh : Abdurrahman El-Hafid

Kini saatnya kita menata kembali taman iman kita, meluruskan komitmen ke-Islam-an kita, merapatkan barisan yang rapuh, mengambil butiran-butiran iman yg berserakan. Ia, iman yang telah ditanam sejak kelahiran kita. Diuji dan teruji, bernilai dan ternilai. Perjalanan keimanan yang membutuhkan banyak pengorbanan dan perjuangan. Ia, iman telah mantap ada dalam bahasanya. Dan apakaha saat ini ia semantap apa yang ada dalam bahasanya? Apakah ia masih kokoh terhujam dalam diri kita? Apakah ia masih berada pada titik keyakinan yang utuh terhadap Rabb-Nya?

Kalaulah kita masih bisa merasakan langit berdzikir, bumi berdzikir, dan seluruh alam beserta isinya berdzikir, kemudian mata kita berdzikir dengan genangan air mata karena mengingat kebesaran Allah, berarti taman keimanan dalam diri kita masih tertata rapih. Tapi sebaliknya, kalaulah hati ini sudah tidak lagi peka terhadap ayat-ayat Allah, dzikir tidak lagi bernilai bahkan tidak ada dzikir, tidak ada lagi kenikmatan dalam beribadah, semua buahnya menjadi terasa masam dan busuk, berarti ada yang salah dalam taman keimanan kita.

Mari kita buka kembali sejarah keimanan kita, sejarah mempertahankan keimanan. Berapa banyak sudah kita menggadaikan keimanan kita untuk kepentingan dunia, untuk kekayaan, untuk kedudukan, untuk nafsu kepada wanita, bahkan hanya untuk urusan perut. Orang lebih bangga berdiam di mobil dan rumah yang mewah, ketimbang harus pergi ke Masjid. Orang lebih senang dan nyaman untuk rapat dan meninggalkan waktu shalat. Orang lebih senang dalam pelukan wanita ketimbang mengambil air wudhu. Orang juga berani mencuri untuk makan sehari-hari. Si koruptor tak lagi malu dengan korupsinya, Si kaya tak lagi peduli dengan Si miskin, Si penjudi tak lagi malu bermaksiat secara terang-terangan, Si miskin tak lagi malu menggadaikan kemiskinannya. Inilah potret nyata dari taman iman kita.

Tidakkah kita rindu dengan keimanan yang dimiliki sahabat Bilal bin Rabbah? Siti Masithoh, tukang sisirnya Fir’aun?. Keimanan yang begitu mendalam yang dimiliki oleh mereka. Betapa Seorang Bilal bin Rabbah begitu bahagianya mengucapakan “Ahad..Ahad...Ahad..!.” walaupun dirinya sedang tersiksa. Siti Masithoh yang dengan rela digoreng di atas tungku yang menyala-nyala demi nama kebenaran untuk mengesakan Allah...

Marilah kita menata kembali taman iman kita. Agar tumbuh bunga yang selalu dihinggapi oleh kumbang. Dirindukan oleh setiap orang. Dikunjungi oleh banyak pendatang. Takjub karena keindahannya. Rapih dengan tataannya. Sejuk dipandang, indah dilihat. Itulah taman keimanan kita yanag baru.


Rawa Bokor Tangerang Banten,
Oct 19, 2008 / 12:38

Article

Menang Dalam Keramaian,
Kalah Dalam Kesepian
Oleh : Abdurrahman El-Hafid

Banyak Sang pemenang yang menjadi juara di arena terbuka dalam sebuah pertandingan, kompetisi dan kejuaraan. Mereka begitu semangat menunjukan keterampilan dan keahliannya kepada lawannya dan para penonton. Banyak pula yang bangkit meraih kemenangan dengan dukungan para penonton, apalagi dari barisan penonton ada seseorang yang spesial bagi dirinya, seperti keluarga dan sahabat dekatnya yang memberikan semangat. Akhirnya kemenangan itu datang dan diraih..Yah kemenangan pada saat itu, kemenagan dari sebuah cerita kemenangan.

Di sisi lain, Sang juara olimpiade matematika di Atlanta kembali ke Negara asalnya indonesia, lalu sampi di rumah ternyata Ibunda tercintanya telah tiada selama ia berada di Atlanta. Akhirnya sang juara olimpiade Matematika inipun merasakan sedih berkepanjangan...Dan mengalami depresi, dan pada puncaknya di keheningan malam, seorang diri, ia mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Berakhirlah cerita sang juara dengan tiang gantungan...

Begitupun sejarah keimanan. Tak terhitung jumlahnya mereka yang istiqomah di jalan Dakwah. Dipupuk solidaritasnya dalam sebuah kelompok atau jama’ah. Akhirnya seluruh hidupnya diwaqafkan untuk dakwah. Keimanannya begitu terlihat, kasat mata menerka kalau mereka begitu dalam keyakinan dalam keberagamaannya, sebab mereka begitu aktif dalam aktivits-aktivitas dakwah. Dlam dauroh-dauroh, mereka begitu terlihat khusyu’. Tahajjudnya, dhuhanya, tilawahnya benar-benar menggambarkan sosok pribadi muslim yang ideal. Namun...Itu ritual dalam kelompok, dan berbeda ketika Anda, saya dan kita semua kembali sendiri menjallani aktivita keseharian kita. Akankah ada semangat ruh yang menjadi industri peradaban Islam, hati sudah mulkai kering, jangankan yang sunnah, yang wajibpun dilalikan. Mata tidak lagi terjaga, hati tidak lagi terpelihara, telinga tidak lagi mendengar kebaikan..Kita kalah dari kesepian. Ternyata kita butuh bersama mereka dalam jama’ah. Kirta tidak bisa sendiri, kita butuh spirit untuk spiritual.

Begitupun dengan lidi, kalau ia hanya ada satu batang, maka tidak akan dapat berguna untuk membersihkan apa-apa, namun apabila lidi itu dijadikan satu, maka akan banyak manfaat yang diambil. Begitu juga kita, makhluk yang membutuhkan orang lain untuk mengingatkan kita, untuk menasehati kita dan untuk menyadarkan kita.

Kita selalu terlihat agak shaleh di depan orang, namun ketika kita sendiri terkadang ke-shalih-an kita tergadaikan. Ingin dilihat oleh orang sebagai ahli ibadah, plagiat ritual ibadah dilakukan, akhirnya kita menjadi budak setan. Bagi kita, kesempurnaan untuk menang dalam kesepian dan menang dalam keramaian, itulah pemenag sejati. (12:34)

Rawa Bokor Tangerang
Sept 02, 2008/ 02 Ramadhan 1428 H

“Hiduplah sebelum kelahiranmu,

“Hiduplah sebelum kelahiranmu,
Matilah setelah meninggalmu”

Oleh : Abdurrahman El-Hafid

Kehidupan, ialah yang datang setelah kelahiran, maka kelahiranlah yang menyebabkan kita berada dalam kehidupan. Kematian, ialah yang datang setelah kehidupan, maka kehidupanlah yang menyebabkan kita menghadapi kematian. Dari itulah kita lahir, kita hidup dan kita mati.

Tidak akan ada kematian tanpa kehidupan, tidak akan ada kehidupan tanpa kelahiran, dan tidak ada kelahiran tanpa penciptaan. Penciptaan lahir dari sebuah irodah Allah swt, dan irodah-Nya Allah adalah kuasa-Nya. Sampai disitulah pengetahuan kita, kita terbatas oleh ikatan taqdir, bahwa manusia terbatas pengetahuannya dibanding pengetahuan Allah, dan sebatas itulah pengetahuan kita terhadap Allah.

“Hiduplah sebelum kelahiranmu, matilah setelah meninggalmu”. Artinya jadilah orang baik yang selalu diidamkan orang dan selalu dikenang orang. Karena orang baik itu sebelum ia tiba di suatu tempat (lingkungan, kantor, atau apa saja) atau sebelum ia ‘dilahirkan’ di tempat itu, orang sudah mendengar tentang kebaikannya dan orang mengharapkan kehadirannya, dengan kata lain dia sudah hidup sebelum kehidupannya di tempat itu. Dan ketika dia meninggalakan suatu tempat, ia masih dikenang karena kebaikannya yang ditinggalkannya itu, seolah-olah ia masih hidup dan masih belum mati di tempat itu.

“Hiduplah sebelum kelahiranmu, matilah setelah meninggalmu....”

Rawa Bokor Tangerang Banten
Oct 19, 2008/12:55

Gudang ilmu; Makhluk itu bernama Perpustakaan


Oleh : Abdurrahman El-Hafid
“Mereka yang mencintai ilmu, mereka membuat perpustakaan. Mereka yang haus akan ilmu, mereka pergi ke perpustakaan. Mereka yang berilmu, mereka yang memiliki perpustakaan.”
Di luar negeri, seperti di Negara-negara Asia dan Eropa. Mereka sudah membuat buku yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah penduduknya. Di Negara Timur Tengah, mereka sedang membuat perpustakaan pribadinya lebih besar dari rumah tempat tinggal mereka. Apa yang sudah dilakukan oleh Negara Indonesia? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Sungguh, Al-Qur’an pun diturunkan pertama kali dengan ayat ‘Iqro..’ Bacalah! Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-Mu yang telah menciptakan. Lalu bagaimana kita mau membaca, kalau kita malas untuk pergi ke perpustakaan. Malas untuk beli buku. Apalagi untuk membuat perpustakaan pribadi. Kita telah jauh terlewati oleh Negara lain. Kita telah jauh tertinggal oleh mereka.
Untuk terus berjuang membangun peradaban keilmuwan, mari kita bersama membangunkan raksasa tidur dalam otak kita, bangkitkan kepedulian kita terhadap ilmu pengetahuan. Ciptakan dalam otak kita sebuah arsitektur peradaban abad ini dengan cara membangun perpustakaan pribadi di rumah-rumah kita, di pojok-pojok pasar, di langgar-langar Masjid dan tempat-tempat lainnya.
Cara baru untuk menuju masa depan yng baru adalah menciptakan hal-hal yang baru. Strategi jitu untuk menuju strategi baru adalah membuat strategi dengan mengerahkan seluruh energi. (17:42)
Rawa-Bokor Kota Tangerang
Tuesday, Sept 02, 2008 M/ 02 Ramadhan 1429 H

Beginilah Indonesia Mengajarkan Kita

Oleh : Abdurrahman El-Hafid
...............................................
Indonesia Raya merdeka-merdeka
Tanahku Negeriku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka-merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Inilah potongan lagu kebanggaaan masyarakat Indonesia. Lagu yang menyemangati setiap perjuangan para pahlawan. Lagu yang dinyayikan stiap hari senin dalam upacara Bendera. Lagu yang melangit mengikuti kibaran Merah Putih.
Sekarang, di mana Indonesia kita. Indonesia tercinta. Yang katanya tongkt bisa jadi umbi-umbianm layaknya tukang sulap. Kita dihadapkan oleh pemandangan atmosphere politik yang begitu kental. Setiap orang sibuk dengan aktivitas keduniaannya masing-masing. Belum lagi mslah kemiskinan yang tak kunjung usai. Media massa pun tak kala hebatnya memberikan tips dan trik gratis bagaimana cara membunuh, mencuri dan memperkosa. Suguhan informasi yang diniatkan untuk memberikan info tentang kriminal malah menjadi metode pengajaran tindak kriminal yang asyik untuk ditonton.
Kita juga masih punya banyak prestasi di bidang yang lain. Prestasi sebagai negara terkorup masih kita pakai. Tak kunjung usai pula mereka-mereka para pejabat melakukan tindakan asusila yang tidak pantas dilakukan oleh seorang abdi rakyat. Belum lagi PNS yang enak-enakkan meninggalkan ruang kerjanya untuk berbelanja dan jalan-jalan menggunkan fasilitas rakyat. Kita juga disuguhkan pandangan kekerasan dalam rumah tangga. Iklan-iklan yang berbau pornografi dan porno aksi. Arus penyebaran Narkotika dan obat-obatan terlarang begitu cepat. Pergaulan bebas menjadi hobby masyarakat.
Setiap hari kita menyantap semua ini, bahkan msih banyk hidangn yng aneh yng Indonesia miliki. Beginilah Indonesia mengjarkan kita... (12:54)
Rawa Bokor Tangerang
Sept 02, 2008/ 02 Ramadhan 1428 H

Mereka yang istiqomah.....




Ya Rabb...Ramadahan-Mu akau jalani

Suci dalam mengingat-Mu

Dalam sujudku Aku bergumam..

Pertemukan Aku dengan-Mu Ya ..Rabb...

Getir sepi dalam lamunan..

Pagar besi dalam penantian..

Aku rindu kepada-Mu Ya,,Rabbb

Rindu tiada tertahan..

Oh..Rindu di tengah kemaksiatan..

Oh..Rindu di sudut penistaan..

Oh...kerinduanku, rindu sesungguhnya.!


Serang, 07 Sep 2008

Segenggam Cinta Untuk Amerika

Oleh : Abdurrahman El-Hafid

Sengaja tulisan ini dibuat untuk sebuah renungan dalam kebingungan.
Laknatullah itu bernama Amerika...itulah yang sering diteriakkan oleh banyak orang tentang Amerika. Negara Adi daya dan Adi kuasa, polisi dunia, patroli galksi Bima Sakti. Siap yang tak kenal Amerika. Begitu terjual habis nama amerika dipasaran. Pembantaian yang dilakukan terhadap Negara-negara Islam menjadi icon perjuangan Amerika. Sudah terlalu banyak sejarah mencatat Negara laknatullah ini, terus cacian diterima bagi negara Amerika. Namun, apakah kita tidak berpikir kalau di sana juga ada saudara kita yang muslim, ada hati-hati yang cenderung kepada Islam. Berarti, bukan Amerikanya, tapi individu-indivdunya. Ada harapan untuk mengajak mereka kembali ke jln Allah. Andaikan bukan kebencian yang kita tanamkan, pastilah harapan itu masih ada.

Kalau kita semua umat Islam mendo’akan agar Amerika menjadi Negara yang damai, tidak menindas umat Islam dan bertaubat kepada Allah, niscaya dengan jumlah kita di seluruh Dunia ini menjadi panjatan do’a terbesar dan dikabulkan oleh Allah Insya Allah. Selama ini kebencian yang selalu kita tanamkan, bukan kasih sayang. Akhirnya do’a - do’a kita terlupakan untuk juga sama-sama mendo’akan orang lain.

Sampaikn cinta kita pada mereka yang membenci kita, bukankah itu ajaran Rasulullah dalanm setiap langkah dakwahnya. Inilah segenggam harapan dan cinta untukmu Amerika.

(Ditulis menjelang keberangkatan ke Amerika. Tepatnya dalam beasiswa IELSP Indonesian English Language Study Program di University of South Carolina, Columbia) Semoga Allah mengampuni hamba....(13:09)

Beginilah Indonesia Mengajarkan Kita

Oleh : Abdurrahman El-Hafid

...............................................
Indonesia Raya merdeka-merdeka
Tanahku Negeriku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka-merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Inilah potongan lagu kebanggaaan masyarakat Indonesia. Lagu yang menyemangati setiap perjuangan para pahlawan. Lagu yang dinyayikan stiap hari senin dalam upacara Bendera. Lagu yang melangit mengikuti kibaran Merah Putih.

Sekarang, di mana Indonesia kita. Indonesia tercinta. Yang katanya tongkt bisa jadi umbi-umbianm layaknya tukang sulap. Kita dihadapkan oleh pemandangan atmosphere politik yang begitu kental. Setiap orang sibuk dengan aktivitas keduniaannya masing-masing. Belum lagi mslah kemiskinan yang tak kunjung usai. Media massa pun tak kala hebatnya memberikan tips dan trik gratis bagaimana cara membunuh, mencuri dan memperkosa. Suguhan informasi yang diniatkan untuk memberikan info tentang kriminal malah menjadi metode pengajaran tindak kriminal yang asyik untuk ditonton.

Kita juga masih punya banyak prestasi di bidang yang lain. Prestasi sebagai negara terkorup masih kita pakai. Tak kunjung usai pula mereka-mereka para pejabat melakukan tindakan asusila yang tidak pantas dilakukan oleh seorang abdi rakyat. Belum lagi PNS yang enak-enakkan meninggalkan ruang kerjanya untuk berbelanja dan jalan-jalan menggunkan fasilitas rakyat. Kita juga disuguhkan pandangan kekerasan dalam rumah tangga. Iklan-iklan yang berbau pornografi dan porno aksi. Arus penyebaran Narkotika dan obat-obatan terlarang begitu cepat. Pergaulan bebas menjadi hobby masyarakat.

Setiap hari kita menyantap semua ini, bahkan msih banyk hidangn yng aneh yng Indonesia miliki. Beginilah Indonesia mengjarkan kita... (12:54)

Rawa Bokor Tangerang
Sept 02, 2008/ 02 Ramadhan 1428 H

Menang Dalam Keramaian, Kalah dalam Kesepian


Oleh : Abdurrahman El-Hafid



Banyak Sang pemenang yang menjadi juara di arena terbuka dalam sebuah pertandingan, kompetisi dan kejuaraan. Mereka begitu semangat menunjukan keterampilan dan keahliannya kepada lawannya dan para penonton. Banyak pula yang bangkit meraih kemenangan dengan dukungan para penonton, apalagi dari barisan penonton ada seseorang yang spesial bagi dirinya, seperti keluarga dan sahabat dekatnya yang memberikan semangat. Akhirnya kemenangan itu datang dan diraih..Yah kemenangan pada saat itu, kemenagan dari sebuah cerita kemenangan.

Di sisi lain, Sang juara olimpiade matematika di atlanta kembali ke Negara asalnya indonesia, lalu sampi di rumah ternyata Ibunda tercintanya telah tiada selama ia berada di Atlanta. Akhirnya sang juara olimpiade Matematika inipun merasakan sedih berkepanjangan...Dan mengalami depresi, dan pada puncaknya di keheningan malam, seorang diri, ia mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Berakhirlah cerita sang juara dengan tiang gantungan...

Begitupun sejarah keimanan. Tak terhitung jumlahnya mereka yang istiqomah di jalan Dakwah. Dipupuk solidaritasnya dalam sebuah kelompok atau jama’ah. Akhirnya seluruh hidupnya diwaqafkan untuk dakwah. Keimanannya begitu terlihat, kasat mata menerka kalau mereka begitu dalam keyakinan dalam keberagamaannya, sebab mereka begitu aktif dalam aktivits-aktivitas dakwah. Dlam dauroh-dauroh, mereka begitu terlihat khusyu’. Tahajjudnya, dhuhanya, tilawahnya benar-benar menggambarkan sosok pribadi muslim yang ideal. Namun...Itu ritual dalam kelompok, dan berbeda ketika Anda, saya dan kita semua kembali sendiri menjallani aktivita keseharian kita. Akankah ada semangat ruh yang menjadi industri peradaban Islam, hati sudah mulkai kering, jangankan yang sunnah, yang wajibpun dilalikan. Mata tidak lagi terjaga, hati tidak lagi terpelihara, telinga tidak lagi mendengar kebaikan..Kita kalah dari kesepian. Ternyata kita butuh bersama mereka dalam jama’ah. Kirta tidak bisa sendiri, kita butuh spirit untuk spiritual.

Begitupun dengan lidi, kalau ia hanya ada satu batang, maka tidak akan dapat berguna untuk membersihkan apa-apa, namun apabila lidi itu dijadikan satu, maka akan banyak manfaat yang diambil. Begitu juga kita, makhluk yang membutuhkan orang lain untuk mengingatkan kita, untuk menasehati kita dan untuk menyadarkan kita.

Kita selalu terlihat agak shaleh di depan orang, namun ketika kita sendiri terkadang ke-shalih-an kita tergadaikan. Ingin dilihat oleh orang sebagai ahli ibadah, plagiat ritual ibadah dilakukan, akhirnya kita menjadi budak setan. Bagi kita, kesempurnaan untuk menang dalam kesepian dan menang dalam keramaian, itulah pemenag sejati. (12:34)

Rawa Bokor Tangerang
Sept 02, 2008/ 02 Ramadhan 1428 H

Marhaban Yaa Ramadhan.....

Akhirnya, kegembiraan itu kembali datang menyapa kita. Kesedihan yang dulu pernah dirasa, takut akan ditinggal olehnya, rindu ingin bertemu kembali di tahun berikutnya. Dan inilah tahun yang dirindukan itu, bulan yang dirindukan itu, yang malam-malamnya penuh dengan kesejukan hati, siangnya penuh dengan perjuangan keimanan….yah itulah Ramadhan..Akhirnya kit berjumpa kembali menatap mentari pagi di bulan Rmadhan. Do’a kecil yang terlintas dalam diri ini menyejukan qalbu, merasa Ramdhan menjadi saudara kita yang telah lama pergi…

Duh…Rabb. Engkau berikan nikmat-Mu pada hamba yang berlumur dosa, namun balasan dari ahli maksiat ini teramat indah dari-Mu. Hamba malu Ya Rabb malu meminta, malu menatap-Mu, malu akan cintamu….

August 30, 2008/19:09
Sumur Pecung Baru-Serang

Islam Dan Khilafah

“ KHILAFAH SEBAGAI SARANA DALAM MENGUSUNG NEGARA ISLAM ILAHIYAH (NII) UNTUK MEMBENTUK MASYARAKAT BERKEPRIBADIAN ISLAMI"
Oleh : Abdurrahman El-Hafid
(Makalah ini pernah diikut sertakan dalam Lomba Karya Tulis Ilmiyah Nasional Tingkat Mahasiswa di UIN SYAHID Jakarta)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Khilafah, kiranya kata ini sekarang sering terdengar. Khilafah adalah sistem pemerintahan umum umat Islam seluruh dunia. Atau, khilafah adalah bentuk “formasi ideologis” bagi umat Islam[1]. Umat Islam melaksanakan sistem ini selama 13 abad lebih. Baru setelah 3 Maret 1924 khilafah bubar setelah ada rekayasa politik Mustafa Kemal. Gaung agar khilafah kembali ditegakkan saat ini memang telah terasa. Berbagai kelompok organisasi masyarakat maupun politik melebarkan sayapnya untuk berpartisipasi dalam menegakkan kembali khilafah Islam lewat sarana-sarana tersebut. Umat Islam merasa, ketika khilafah ditegakkan kenyamanan hidup dan kebebasan dalam beribadah sesuai dengan syari`at akan didapatkan. Hal ini berbeda dengan kondisi dunia saat ini, khususnya lagi di Indonesia.

Dari latar belakang permasalahan tersebut, agaknya sebuah kepastian bagi umat Islam untuk menegakkan kembali khilafah Islam di dunia. Namun seiring dengan hal itu ada hal yang belum diimbangi oleh umat Islam saat ini, yaitu menyamakan pemahaman terhadap khilafah, konsep kekhilafahan serta strategi besar dalam mencapai kekhilafahan dan bagaimana membentuk karakter hidup cara Islam.

Dalam mencapai semua tujuan tersebut, maka dibutuhkan persatuan umat Islam seluruhnya. Tidak hanya sebagian kelompok atau sebagian individu saja, tetapi seluruh lapisan sosial masyarakat di dunia ini ikut serta berpartisipasi dalam mengusung agenda besar umat Islam yaitu tegaknya kembali khilafah Islam. Dan khilafah Islam ini juga bisa diaplikasikan dalam bentuk apa saja termasuk konsep Negara Islam Ilahiyah (NII). Apalah arti sebuah nama, yang terpenting isi dan sistemnya berasaskan Islam. Inilah kiranya mengapa penulis ingin mempopulerkan istilah NII dari kata yang berbeda.

1.2 Perumusan Masalah

Untuk lebih mengkonsentrasikan umat Islam terhadap ageda besar ini, layaknya merumuskan masalah-masalah yang mesti dibahas dan diselesaikan demi tegaknya kembali khilafah Islam. Adapun rumusan masalah dari penulisan karya tulis ilmiyah ini adalah sebagai berikut :

1 Bagaimanakah Rangka Bangun Khilafah Islam Itu?

Rumusan ini memberikan pemahaman terhadap dasar dan hukum tegaknya khilafah di muka bumi ini serta memberikan motivasi menegakkan khilafah. Rumusan masalah poin ini juga memberikan pengetahuan tentang pro dan kontra tegaknya khilafah Islam

2 Bagaimana Konsep Negara Islam Ilahiyah Itu?

Dapat memberikan pengetahuan tentang karakteristik negara Islam seperti apa dan bagaimana. Rumusan ini juga disertai dengan undang-undang ke-Islaman serta dapat memberikan informasi tentang strategi menegakkan Negara Islam Ilahiyah (NII)



3 Apa Saja Karakteristik Kepribadian Islami Itu?

Rumusan masalah in berisi komponen pembentuk, fase perkembangan sampai kepada pengembangan dari akhlaq, karakter dan kepribadian.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Rangka Bangun Khilafah Islam
2.1.1 Dasar dan Hukum Tegaknya Khilafah
Konsepsi kenegaraan di dalam Islam memang sangat luas cakupannya, dan di dalam Al-Qur`an sendiri tidak menyebutkan secara terperinci untuk menegakkan khilafah Islam. Tetapi sebagai kitab suci yang berlaku sepanjang zaman, Al-Qur`an banyak menyebutkan dan menyinggung tentang negara dan kepemimpinan yang dikaitkan dengan konsep tegaknya khilafah pada saat ini. Seperti ada ayat di dalam Al-Qur`an yang artinya sebagai berikut : “ Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi......”[2]. Ayat ini memberikan petunjuk bahwa ketika Allah menjadikan khalifah di muka bumi, maka haruslah ada wadah yang mendukung Adam AS sebagai khalifah atau Muhammad sebagai Khalifah dan Khulafaturrasyidin sebagai khalifah, yaitu kekhalifahan.

Dalam ayat lain disebutkan “ Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah, RasulNya dan kepada Ulil Amri ....”[3] . “ Ayat ini adalah asas sendi bagi politik pemerintahan Negara Islam. Seyogyanya tidak diturunkan Tuhan di dalam kitab suci Al-Qur`an akan ayat-ayat yang lainnya mengenai politik, maka cukuplah ayat ini menjadi dasar pegangan apabila kaum muslimin hendak mendirikan segala hukum pemerintahan di atasnya”[4]

Ayat-ayat inilah yang mendukung untuk tegaknya kekhalifahan Islam, dan perintah-perintah ayat Al-Qur`an di atas adalah banyak menggunakan fi`il amri yang berarti Al-Aslu fil amri lilwujub. Dan dapat diambil kesimpulan bahwa wajib untuk umat Islam menegakkan dan mendirikan khilafah Islam di Dunia.

2.1.2 Motivasi Membangun Khilafah

“Reason For Doing Something”[5] (Alasan untuk melakukan sesuatu). Inilah nilai besar dari sebuah motivasi yang membangkitkan seseorang untuk bergerak dan melakukan sesuatu demi tercapai keinginan atau maksud tujuannya. Khilafah terus digaungkan, tentu ini menyimpan motivasi besar dalam agenda penegakkan kembali kekhilafahan. Buat umat Islam sebuah keniscayaan untuk mendirikan dan menegakkan khilafah, sebab beberapa rewards Allah akan diberikan kepada siapa saja yang ikut mengembangkan agamaNya termasuk di dalamnya adalah khilafah.
Untuk memompa diri agar tetap semangat dalam berdakwah menyampaikan ajaran-ajaran Allah demi tegaknya khilafah yang berbingkai syari`at Islam, maka umat Islam mesti menjaga kontinyuitas dalam berdakwah (Istimrariyyatuddakwah). Berikut pilar-pilar dalam kesinambungan berdakwah[6] :

· Menjaga kepercayaan dalam beragama ( Hifzhu Atsiqoh Fiddin)
· Mengikat hati dalam beragama ( Irtibatul Qulub Fiddin)
· Menjaga semangat dalam beragama (Hifzhu Al-Hamasah Fiddin)
· Berpedoman pada prinsip dakwah
· Berpedoman pada fikroh dakwah
· Berpedoman pada konsep dakwah
· Fokus pada tujuan jama`ah
· Fokus pada konsep jama`ah
· Mematuhi pimpinan jama`ah (Qiyadah)
· Memahami harakah jam

2.1.3 Pro-Kontra Khilafah

Setelah khilafah lengser pada tahun 1924, barulah saat ini menggaung kembali suara-suara penegakan khilafah di bumi tercinta Indonesia ini. Di balik itu semua tersimpan polemik tentang kekhilafahan yang diusung di bumi Indonesia ini. Pihak-pihak yang terus berkoar untuk tegaknya khilafah ini terus melagukan seruan-seruannya demi tercapainya syari`at Islam dalam bingkai khilafah nanti terlepas dari faham atau tidaknya proses syari`at Islam setelah terbentuk khilafah nanti, yang terpenting adalah mewujudkan cita-cita berdirinya khilafah. Ada beberapa alasan tentang dukungan terhadap pengembalian khilafah.
Umat Islam saat ini hanya menjadi lahan imperialisme saat tidak mampunyai khilafah. Saat ini seluruh wilayah dunia Islam, secara langsung atau tidak langsung, berada dalam cengkraman imprealisme modern dengan istilah apapun seperti globalisasi atau tanda dunia baru yang berbeda ketika umat Islam mempunyai khilafah.
Bagi umat Islam masa lalu, ternyata tidak ada keraguan terhadap khilafah Islam. Bahkan mereka berpikir tanpa khilafah akan terjadi musibah bagi umat Islam. Hafidz Abdurrahman menyampaikan,” karena itulah, maka semua ulama sepakat mengenai wajibnya mengangkat dan mewujudkan khilafah Islam.
Masalah khilafah mempunyai landasan kuat secara syara`. Tentang ini, banyak pakar hukum Islam lama maupun baru yang menegaskannya. Imam Mawardi, Abu Ya`la, Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Khaldun adalah beberapa pakar hukum Islam masa klasik dan pertengahan yang menekankan khilafah.

Di samping yang mendukung, ada pula beberapa kalangan yang menentang pengembalian khilafah. Terdapat beberapa alasan menentang pengembalian khilafah. Di antarnya adalah sebagai berikut :
1. Banyaknya pendapat tentang khilafah. Karena beragamnya pendapat tentang khilafah maka dikhawatirkan akan timbul kebingungan penerapan khilafah.
2. Sejarah kelam khilafah sebagaimana di masa Yazid bin Mu`awiyah dan beberapa fragmen di masa Umayah, Abbasiyah dan Utsmaniyah.
3. Anggapan khilafah adalah uthopia (khayalan). Apa ketemu nalar umat Islam mampu membangun sistem skala dunia.[7]
Terlepas dari Pro-Kontra masalah khilafah, umat Islam saat ini sudah semakin sadar akan posisinya sebagai umat yang beradab dan memiliki pola pikir keberagaman yang mementingkan asas satu tujuan untuk menjadikan Islam berwibawa di mata dunia.

2.2 Konsepsi Negara Islam Ilahiyah (NII)
2.2.1 Karakteristik Negara Islam
Dalam konsep pemerintahan Islam memiliki pilar-pilar dasar pemerintahan Islam. Pilar-pilar tersebut adalah sebagai berikut[8] :

1. Kedaulatan di tangan syara`
Bahwa dalam karakter negara Islam harus berpedoman pada kedaulatan yang bersumber pada syara` atau syari`at yang telah ditetapkan. Karena jika kedaulatan tidak bersumber pada syara`, maka itu bukan sistem yang harusnya ada di pemerintahan Islam. Hal ini kontra dengan sistem demokrasi yang ada saat ini bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat, yang ada di dalam Islam adalah kekuasaan yang ada di tangan rakyat/umat bukan kedaulatan.

2. Kekuasaan di tangan Umat

Seluruh aspek kekuasaan yang ada mulai dari tataran bawah sampai tataran atas ada di tangan umat/rakyat. Jadi umatlah yang menentukan peta kekuasaan negara Islam. Hal ini sama seperti umat memilih Khulafaur Rasyidin yang dipilih menjadi khalifah setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Segala bentuk kekuasaan pada masa itu yang wewenang adalah umat, dan Khulafaur Rasyidin hanyalah pengemban amanah bahkan bisa dikatakan pelayan umat.

3. Hanya khalifah yang berhak mengadopsi hukum

Sumber adopsi hukum ada di tangan khalifah, tidak semua orang berhak mengadopsi hukum yang akan dikonsumsi umat. Sebab, bila semua orang mengadopsi hukum pada saat ini, maka rentan terjadi perpecahan karena semua orang mempunyai hukum masing-masing dan itu sama saja tidak ada yang mengatur negara. Di sinilah fungsi negara Islam dalam mengatur sistem hukum. Dan satu hal yang terpenting adalah khalifah yang memimpin, tentunya khalifah yang memimpin juga bukan orang sembarangan. Kebijakan, kecerdasan serta kepiawaian khalifah dalam mengatur segalanya termasuk mengadopsi hukum juga dapat diperhitungkan.

4. Wajib membai`at satu khalifah

Suksesi kepemimpinan Islam sudah berlangsung semenjak Rasulullah SAW meninggal dunia, sejak itu pulalah diangkat dan dipilih Abu Bakar Shiddiq sebagai khalifah pengganti Muhammad. Hal ini dilakukan oleh umat waktu itu yang menginginkan ada pengganti Rasulullah sebagai estafeta gerakan dakwah. Dan membai`at Abu Bakar Shiddiq pada saat itu. Adapun rukun bai`at sebagai berikut[9] :
1. Al-Fahmu ( Pemahaman ) 6. Ath-Tho`at
2. Al-Ikhlas ( Keikhlasan ) 7. Ats-Tsabat ( Keteguhan )
3. Al-Amal 8. At-Tajarrud ( Kemurnian )
4. Al-Jihad 9. Al-Ukhuwah ( Persaudaraan)
5. At-Tadhiyah ( Pengorbanan Jiwa) 10. Ats-Tsiqah (Kepercayaan)


2.2.2 Undang-undang Keislaman

Undang-undang Islam mencakup berbagai aspek kehidupan di rumah, di pasar, di kantor, di pengadilan, di sekolah, di dalam atau di luar negeri. Tujuan undang-undang ini adalah memberikan kehormatan, kebahagiaan dan kedamaian untuk seluruh umat manusia yang berlandaskan terhadap prinsip cinta, kasih sayang dan pengawasan Allah di mana pun. Allah berfirman, yang artinya sebagai berikut : “....Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya (Rasul) dari Allah dari Allah dan kitab yang menerangkan (hukum-hukum-Nya)[10].
Undang-undang Islam selalu berkisar pada hak-hak asasi manusia yang bersifat primer dan manusia tidak akan dapat meraih kebahagiaan yang sempurna tanpa didukung oleh undang-undang ini. Hak asasi tersebut adalah hak hidup, hak beragama, hak mendapatkan pengetahuan, hak berkarya, dan hak mendapatkan kehormatan[11] Ulama fiqih sepakat bahwa hak-hak tersebut disebut sebagai maqasid asy-syari`ah atau merupakan tujuan adanya syari`at, yaitu menjaga lima hal penting : agama, akal, jiwa, harta dan kehormatan. Ada empat prinsip yang mendasari tegaknya undang-undang ini : keadilan, persamaan, kemudahan, dan kemaslahatan.
A. Prinsip Keadilan
Berlaku adil adalah memberikan sesuatu kepada orang yang berhak, sehingga orang tersebut merasa dihormati dan merasakan ketenangan serta kedamaian dalam hidupnya. Prinsip keadilan ditetapkan oleh undang-undang Islam untuk dipraktekan dalam setiap tingkatan masyarakat dan dalam semua aspeknya, tanpa kecuali. Prinsip keadilan ini harus diterapkan :
a. Di lingkungan keluarga
b. Dalam urusan jual beli dan interaksi sosial lainnya
c. Di pengadilan
d. Dalam pemerintahan

B. Prinsip Persamaan.
Tidak ada perbedaan kelas sosial dalam penerapan undang-undang Islam, semua lapisan sosial berhak mendapatkan hak-haknya masing-masing berdasarkan takarannya. Undang-undang Islam selalu menjaga prinsip persamaan di hadapan hukum dan kebenaran untuk seluruh manusia. Adapun persamaan-persamaan tersebut terdapat dalam :
a. Dalam harta benda ( 2 : 128 )
b. Dalam menjaga darah ( 2 : 179 )
c. Dalam menjaga kehormatan ( 17 : 32 )
C. Prinsip Kemudahan
Undang-undang Islam tidak membebani manusia dengan tugas yang tidak mampu mereka lakukan atau yang bertentangan dengan karakter dan insting mereka. Hal ini berpedoman pada firman Allah : ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya...”[12]

D. Prinsip Kemaslahatan
Menjaga kemaslahatan manusia merupakan tujuan mendasar dalam undang-undang Islam. Hal ini dapat dilihat dalam pelaksanaan ibadah yang nampaknya tidak berhubungan dengan kemaslahatan umum :
a. Shalat
b. Puasa
c. Haji
d. Zakat

2.2.3 Strategi Tahapan Menegakkan Negara Islam Ilahiyah (NII)

Dalam menegakkan syari`at Islam di Indonesia yang berbingkai pada Negara Islam Ilahiyah (NII), maka umat Islam semestinya memiliki pedoman atau juklak dalam melaksanakan agenda-agenda besar penegakkan syari`at di Indonesia dan memiliki strategi serta cara tersendiri dalam upaya penegakkan NII tersebut. Tidak hanya menyoal pada bentuk kritis untuk menegakkan khilafah dengan berdemonstrasi, tetapi tidak mempunyai konsep ketika khilafah berdiri dan tidak mempunyai tata cara untuk menuju khilafah Islam. Ada beberapa tahapan dalam mengusung khilafah Islam yang mesti dilakukan oleh masyarakat Islam saat ini :
1. Mihwar Tanzhimi atau tahapan membentuk karakter dan sikap terlebih dahulu melalui sarana organisasi dalam berdakwah. Membentuk satu wajihah dakwah untuk membangun fondasi dasar sebagai naungan mendirikan dakwah ke depan. Sebab apabila tidak ada organisasi yang mewadahinya maka strategi yang akan dibangun akan bias karena tidak terorganisir dengan baik. Sarana dakwah ini juga tidak hanya berbentuk organisasi resmi, bisa berbentuk kelompok halaqoh atau dalam bentuk kelompok kajian. Tahapan ini beroreientasi untuk menambah pendukung untuk berdirinya khilafah atau bisa disebut dengan kader. Manajemen yang digunakan dalam tahapan ini adalah manajemen instruktif, artinya para pelopor menginstruksikan dan mentransfer keilmuwan bagaimana dan apa tujuan berdirinya khilafah. Dan kader pada posisi ini lebih dominan untuk melaksanakan setelah mendengarkan (Sami`na wa ata`na).
2. Mihwar Sya`bi atau tahapan memberdayakan kader untuk terjun ke lapisan sosial untuk memeberikan pelayanan kepada masyarakat tentang kebutuhan mereka. Hal ini diharapkan dapat membantu menarik simpati masyarakat untuk ikut bergabung dan berkecimpung membentuk khilafah karena mereka merasa diperdulikan. Pada posisi tahapan ini lebih kepada manajemen konsultatif, artinya lebih banyak berdiskusi tentang kebutuhan, keinginan serta curhatan masyarakat sosial yang sedang dirasakan karena ini adalah kerja sosial untuk strategi membangun khilafah di Indonesia dengan karakter masyarakat Indonesia yang bervariasi.
3. Mihwar Siyasi. Ini adalah tahapan ketiga, yaitu tahapan berafiliasi terhadap dunia politik. Tahapan yang memiliki tingkat kesulitan agak tinggi membutuhkan analisis yang tepat untuk menempatkan kader pada posisi strategis dalam siyasah atau politik yang diharapkan untuk menjadi seorang ahli, spesialis dan professional. Dalam tahapan ini menggunakan manajemen delegasi, artinya kader-kader yang sudah terkondisikan melewati dua tahapan sebelumnya didelegasikan untuk menempati posisi – posisi strategis lewat pemilihan umum atau sistem pemilhan lainnya.
4. Mihwar Dauli atau tahapan terakhir dari agenda mengusung dan menegakkan kembali khilafah dalam bingkai Negara Islam Ilahiyah (NII). Tahapan ini adalah tahapan yang mulai menggerogoti sistem yang ada saat ini dengan merubahnya kepada konsep-konsep khilafah yang tentunya diawali dengan menjadikan kader menjadi tokoh atau pemimpin negara skala nasional bahkan internasional, dengan posisi ini maka kita akan bisa merubah sistem yang sudah ada. Tahapan ini mengharapkan kader untuk menjadi seorang negarawan. Dalam tahapan ini lebih kepada manajemen partisipatif, artinya peran partisipasi kita terhadap perubahan sistem yang ada kepada sistem khilafah.

Dari ke-empat tahapan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa khilafah tidak akan berdiri secara cepat dan langsung berdiri, tetapi untuk tegak sebuah khilafah membutuhkan kurun waktu yang cukup panjang dan membutuhkan strategi-strategi khusus. Hal ini diungkapkan karena melihat kondisi Indonesia pada saat ini dengan sistem pancasila yang sudah ada. Kita sebagai umat Islam tidak memulai dari awal untuk menegakkan khilafah di Indonesia, tetapi kita memulai dari titik tengah yang berarti harus merubah terlebih dahulu bukan langsung membangun. Dalam rekonstruksi khilafah ini kita membutuhkan dua kali kerja untuk membangun dengan merubah sistem yang awal terlebih dahulu baru mebangun syari`at Islam dalam bingkai khilafah.

Banyak Konsep yang dibangun oleh para pemikir Islam saat ini yang ingin khilafah tegak kembali. Melalui banyak sarana yang saat ini sudah banyak terlihat, mulai dari sisi terkecil yaitu kelompok kajian sampai kepada partai politik dan organisasi Islam. Mungkin inilah potret yang sudah dijalankan oleh pelaksana penegakan khilafah di Indonesia sebagai bagian dari partisipasi umat Muhammad. Cara-cara ini pulalah yang mungkin juga termasuk ke dalam empat tahapan yang penulis uraikan di atas. Walaupun banyak titik yang bergerak menyentuh beberapa arah dan berpencar, namun penulis meyakini suatu saat akan bertemu pada satu titik terakhir yaitu tegaknya khilafah dalam waktu dekat ini.


2.3 Karakteristik Kepribadian Islami

2.3.1 Komponen Pembentuk Karakter

Dalam kehidupan sehari-hari, tindakan manusia biasanya dibagi menjadi dua kelompok karakter tindakan, tindakan sadar dan tindakan tidak sadar. Tindakan sadar berarti adalah manusia bertindak berdasarkan atas dasar kehendak dan motif. Sedangkan tindakan tidak sadar adalah tindakan yang tidak mengandung unsur kehendak. Tindakan tidak sadar biasanya karena hilangnya salah satu faktor yang melahirkan perilaku, seperti akal (dalam keadaan gila, tidur) atau situasi refleksi di luar kemampuan mengendalikan diri yang biasanya disebut ketidaksengajaan[13].

Dari kedua bentuk perilaku tersebut, hanya perilaku sadarlah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itulah perilaku sadar inilah yang selalu terkait oleh pembahasan tentang Akhlaq dan Moral. Ada beberapa faktor yang membentuk perilaku sadar kita. Faktor yang mendukung terbentuknya perilaku kita adalah faktor utama yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Adapun faktor internal pembentuk perilaku sadar kita adalah sebagai berikut :

1. Instink biologis; seperti rasa haus yang mendorong manusia untuk minum, rasa lapar dan nafsu yang mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah suatu nilai kebutuhan biologis. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan inilah yang mendorong orang untuk melakukan apa saja demi menutupi kebutuhan tersebut. Dan usaha itulah yang menghubungkan dengan perilaku manusia dalam pembahasannya.
2. Kebutuhan Psikologis; seperti kebutuhan akan rasa aman, penghormatan, penghargaan serta penerimaan dan banyak lagi hal-hal yang berkenaan dengan kebutuhan psikologis yang menggambarkan situasi perilaku seseorang dalam melakukan sesuatu yang merupakan aplikasi bebentuk tindakan atau perilaku.
3. Kebutuhan Pemikiran; yaitu bentuk kumulasi informasi yang didapat yang dapat membentuk cara berpikir seseorang. Maka, pengetahuan, agama, mitos akan mempengaruhi pola pikir seseorang dan akan mempengaruhi perilaku.
Adapun faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar diri manusia, namun dapat secara langsung mempengaruhi perilaku dan pola pikir seseorang. Adapun faktor-faktornya sebagai berikut :
1. Lingkungan Keluarga; Dimensi awal sebuah pendidikan adalah berawal dari keluarga, kelurgalah yang membentuk sedari dini pola pikir dan perilaku seseorang.
2. Lingkungan Sosial; Dimensi aplikasi dari konsep keluarga yang diterapkan adalah lingkungan sosial yang dapat mungkin mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang dalam bergaul dan mengambil tindakan-tindakan.
3. Lingkungan Pendidikan; Dimensi pendidikan yang merupakan sumber dari segala sumber. Dari mana orang memulai berpikir secara sistematis dan dapat mempengaruhi keluarga serta lingkungan sosialnya adalah dari mana seseorang tersebut dididik. Pendidikan dalam perannya membuat seseorang menjadi begitu berarti, bahkan sebaliknya akan menjadi tak bernilai.



2.3.2 Fase Perkembangan Prilaku dan Kepribadian

Dengan memperhatikan pola pembinaan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat-sahabatnya yang terdiri dari berbagai usia dan pernyataan–pernyataan umum beliau, kita dapat menyimpulkan bahwa tahapan-tahapan perilaku dan kepribadian berlangsung dalam tiga tahapan dan ciri-ciri sebagai berkut:


Tahap I : (0-10 tahun) : Perilaku Lahiriyah dengan ciri umum antara lain :
· Anak memperlihatkan perilaku lahiriyah yang bersifat formalistik. Perilaku ini tidak mengakar pada kesadarannya, sehingga bersifat tidak tetap dan mudah berubah.
· Perilaku anak lebih dipengaruhi oleh perilaku eksternal, seperti tingkat penerimaan lingkungan yang diketahui anak melalui persetujuan dan penolakan, sanjungan atau kritikan, dan imbalan atau hukuman.
· Penilaian anak terhadap semua perilakunya bersifat egosentris, dimana kriteria baik dan buruk ditentukan oleh kesenangan material yang diperolehnya.
Tahap II : ( 11 – 15 tahun ) Perilaku Berkesadaran dengan ciri umum sebagai berikut :
· Anak sudah dapat membedakan baik dan buruk dan karenanya dapat menentukan perilaku-perilakunya sendiri.
· Anak memperlihatkan keluwesan dalam berperilaku.
· Penilaian baik buruk mulai lepas dari sifat egosentrisnya dan berpindah ke penilaian akan dampak perilakunya terhadap proses adaptasi sosialnya.
· Perilakunya mulai memasuki tahapan kebiasaan (habit) dan akan berkembang menjadi karakter, karena mulai mengakar dalam kesadarannya, sehingga akan bersifat tetap.
Tahap III : ( 15 tahun ke atas ) Kontrol internal atas perilaku dengan ciri umum antara lain :
· Menguatnya kesadaran akan nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan.
· Tanggung Jawab yang tinggi terhadap Allah SWT.
· Nilai-nilai individu dan sosial mulai terintegrasi secara utuh dalam kepribadiannya.
· Perilakunya sudah mengakar kuat dalam kepribadiannya dan cenderung bersifat tetap.

2.3.3 Pengembangan Akhlak dan Kepribadian
Dalam perkembangan akhlak dan kepribadian perlu dilakukan langkah-langkah yang secara sistematis mesti dijalankan sebagai suatu cara untuk mencapai tujuan perkembangan akhlak dan kepribadian. Sebelum kita melaksanakan langkah-langkah sistematis tersebut hendaknya kita lebih dahulu mangetahui hal-hal penting yang harus dipahami secara mendalam terlebih dahulu. Hal-hal tersebut adalah :


· Apakah sudah memahami secara matang kriteria dan kepribadian yang matang?
· Apakah memiliki keinginan yang kuat untuk mengembangkan akhlak dan kepribadian yang matang?
· Apakah memiliki kesiapan jiwa untuk berubah dan berkembang?

Langkah-langkah untuk mengembangkan akhlak dan kepribadian ini adalah sebagai berikut :
· Langkah pertama adalah melakukan perbaikan dan pengembangan pada cara berpikir (terapi kognitif).
· Langkah kedua adalah melakukan perbaikan dan pengembangan pada cara merasa (terapi mental).
· Langkah ketiga adalah melakukan perbaikan dan pengembangan pada cara berprilaku (terapi fisik)




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari hasil pembahasan yang terdapat pada BAB II, maka dapat disimpulkan beberapa poin kesimpulan sebagai berikut :

1. Bahwa dasar dan hukum berdirinya khilafah di dalam Al-Qur`an tidak tertera secara terperinci, namun dapat dikiaskan dengan ayat-ayat yang berhubungan dengan kepemimpinan. Sebagai bukti Al-Qur`an mencakup segala aspek kehidupan.
2. Sebagai Umat Islam maka janji-janji Allah bagi orang-orang yang menegakkan Agama-Nya menjadi motivasi untuk menegakkan khilafah.
3. Tidak semua orang sepakat dengan tegaknya khilafah, ternyata ada beberapa orang atau kelompok juga tidak sepakat atau menjadi pihak kontra terhadap berdirinya khilafah.
4. Bahwa Negara Islam mesti memiliki karakteristik tertentu untuk disebut sebagai Negara Islam, di antaranya adalah harus membai`at satu orang khalifah.
5. Islam dalam undang-undangnya memiliki beberapa pertimbangan di antaranya adalah keadilan dan kesamaan.
6. Dalam penegakkan khilafah, maka harus menempuh beberapa tahapan-tahapan, yaitu : tahapan tanzhimi, tahapan sya`bi, tahapan siyasi serta tahapan dauli.
7. Dalam mewujudakan masyarakat Islami, maka kita mesti memahami tentang komponen kepribadian, fase perkembangan kepribadian serta pengembangan akhlak dan kepribadian.




[1] Politik dan Hukum dalam Al-Qur`an, Dr.Rifyal Ka`bah, M.A
[2] QS.Al-Baqarah : 31
[3] QS. An-Nisa 58
[4] Tafsir Al-Manar, juz v, sayed Muhammad Rasyied Redha
[5] Life excellent, Reza M Syarief
[6] Majmu`aturrasail, Imam Syahid Hasan Al-Banna
[7] Misi di sebuah Planet, Husein Matla
[8] Konsep Khilafah, Yasin Muthohar
[9] Risalatutta`lim, Imam Syahid Hasan Al-Banna
[10] QS.Al-Ma`idah 5:15
[11] Intisari Ajaran Islam, Thaha Muhammad, hal.57
[12] QS.Al-Baqarah 2:286
[13] Membentuk Karakter Cara Islam, Anis Matta, hal.33
 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates