Akademi Merdeka IV


Foto bersama Gus Ulil dan Mas Luthfie. Acara yang disponsori oleh Freedom Institute dan FSN Germany ini mengusung tema "Mengenal ide-ide Politik dan Ekonomi Modern""

BOLA DAN NASIONALISME


Baiklah Kita patut berbangga dengan prestasi Tim nasional sepak bola Kita yang secara luar biasa mampu lolos ke final piala AFF tahun ini, luar biasa karena memang sudah sejak lama sepak bola Kita terpuruk dan tiba-tiba Kita dapat hadiah akhir tahun dari Timnas yang berprestasi. Lalu mendadak kesadaran Kita tergugah dan timbul pula rasa nasionalisme dan cinta negeri di diri Kita. Namun yang perlu sedikit Kita kaji ialah: bagaimana kalau ternyata nasionalisme Kita latah Cuma karena dipicu oleh euforia produksi media massa? Tentu pertama perlu ditegaskan bahwa maksud Kita bukan mendiskreditkan tim nasional maupun pesimistik dan merendahkan Mereka, karena seyogyanya timnas memang perlu dipuji dan di support agar mampu maju lebih jauh lagi, yang perlu Kita ketahui ialah pengaruh media massa yang sedemikian besar dalam membentuk opini publik dan secara alam bawah sadar menimbulkan kepercayaan pada diri Kita sehingga apapun yang dikatakan media langsung Kita percaya tanpa adanya bantahan. Itu yang coba Kita gali maknanya.
Ada sebuah teori yang dikembangkan oleh teoritikus Sandra Ball-Rokeach and Melvin DeFleur yang disebut “The Dependency Theory” alias “Teori Ketergantungan.” Dalam teori ini disebutkan bahwa “semakin seseorang tergantung pada media massa untuk memenuhi kebutuhannya, maka media akan menjadi semakin penting bagi seseorang itu. Kemudian media akan menjadi sangat berkuasa kepada seseorang tersebut, dan lama-kelamaan media akan berkuasa atas hidup seseorang itu.” Begitu tergantung Kita pada sebuah produk media sehingga tanpa sadar Kita memang sudah sampai pada proses dimana media menjadi sangat urgen dalam aspek kehidupan, Kita begitu percaya pada semua yang dikatakan media tanpa mau memilah mana yang benar dan mana yang blunder. Salah satu kasus yang cukup membuat Saya geli sendiri adalah di sebuah akun Twitter seorang bertanya dalam tweet nya “eh lagi dijalan nih menuju Benteng Vrederburg, ada yang tahu enggak jalannya kemana?” apa yang lucu hingga Saya geli sendiri? Sebenarnya pertanyaan itu tidak lucu dan biasa saja, bertanya jalan. Yang lucu dan perlu diperhatikan adalah mental pemilik akun tersebut yang sudah terlalu tergantung pada media (dalam hal ini Twitter) sehingga dia memutuskan bertanya arah jalan pada orang di Twitter.
Coba ditelaah secara logika, bukankah akan lebih efektif bila orang tersebut turun dari motornya sejenak lalu bertanya langsung pada orang di pinggir jalan ketimbang harus bertanya di Twitter dan harus menunggu sekian lama ada orang yang menjawab pertanyaannya tersebut? Namun secara alam bawah sadar memang pola pikir dependensia media itu sudah tertanam jadi pemilik akun itu lebih percaya pada Twitter daripada bertanya orang di jalan, walau tentu itu lebih nonefisien. Contoh lain adalah sebut saja si A yang berasal dari Jakarta yang panas tiba-tiba pindah ke Bogor yang sering turun hujan, karena pindah Kota maka Si A merasa membutuhkan membaca koran, atau melihat TV, maupun di internet tentang ramalan cuaca hari ini agar tahu apa akan hujan. Satu hari tiba-tiba Dia terputus dari media yang dikonsumsi nya tiap hari, internet putus, TV mati, koran tak dikirim. Alih-alih melihat keluar apa hari ini akan hujan atau percaya pada intuisi bahwa mungkin hari ini tak akan hujan, si A memilih tak keluar rumah sebab Dia tak mendapat ramalan cuaca hari ini dari media, sebuah sumber yang paling dipercayanya dalam hidup.
Maka dengan mengacu pada teori ketergantungan media tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: “bagaimana kalau ternyata rasa cinta negeri, nasionalisme, serta dukungan Kita pada timnas sekarang ini hanya karena Media memaksa alam bawah sadar Kita agar percaya hal itu, dan bukan berasal dari lubuk hati Kita yang paling dalam?” karena porsi pemberitaan media massa yang Kita konsumsi tiap hari sangat berlebih dan cenderung bias pula, dan semua Kita telan mentah-mentah. Padahal media tentu membuat berita itu bertendensi pada penaikkan oplah dan rating maka sebuah isu yang sepertinya berpotensi meningkatkan kredibilitas media itu harus di blow up sebanyak mungkin bahkan kalau perlu didramatisir agar lebih menarik minat. Dalam makalahnya “pengantar Komunikasi Massa” Nurudin menyebutkan “Media massa dan budaya massa telah mempromosikan banyak hal yang ikut menjadi sasaran teori kritis. Bahkan ketika media massa tidak melihat sebagai sumber masalah khusus, mereka dikritik untuk memperburuk atau melindungi masalah dari yang diidentifikasi atau disebut dan dipecahkan. Contohnya, seorang teoritikus berpendapat bahwa isi praktik produksi para praktisi media tidak hanya menyebabkan tetapi juga mengabadikan masalah.” Maksudnya ialah media massa seringkali harus menambahkan bumbu-bumbu penyedap dalam sebuah informasi agar para audience berminat mengkonsumsi informasi itu, dan sialnya Kita ini lagi-lagi tanpa sadar ikut termakan propaganda budaya massa itu.
Kita lebih butuh sebuah hiburan ketimbang isi informasi itu, Kita lebih suka kemasannya yang wah daripada esensi informasi yang dikandungnya. Maka porsi pemberitaan luar biasa media lokal akan Timnas Indonesia mau tak mau tak mau memunculkan euforia massal yang melahirkan nasionalisme latah yang muncul tiba-tiba selama Piala AFF terselenggara. Sebuah pertanyaan lantas timbul: seandainya media tidak mengatakan “kemenangan timnas sepakbola Indonesia menimbulkan nasionalisme pada penduduk Indonesia” apakah Kita tetap memiliki rasa nasionalisme itu? Kalo iya kenapa sebelumnya euforia nasionalisme ini tak muncul ke permukaan? Kasus yang sama persis terjadi dimana Kita tahu kalau Kita butuh dan harus makan Burger setelah Kita melihat iklannya di TV, padahal sebelum melihat iklan itu Kita tak butuh makan burger dan hidup Kita baik-baik saja tanpanya.
Sebagai penutup, lagi-lagi ini bukan bentuk pesimis akan timnas, justru harusnya ini jadi perenungan Kita. Apakah dukungan Kita pada timnas sepakbola Indonesia benar-benar dari lubuk hati yang terdalam atau kesadaran ini adalah kesadaran (palsu) yang timbul karena digugah media massa yang orientasi utamanya adalah atas nama rating dan oplah? Agaknya niat baik Kita memberi support dan tekad nasionalisme pada timnas perlu didekonstruksi dan dievaluasi. Agar timnas sepakbola negeri yang memang bermain bagus dan patut berprestasi itu benar-benar dapat membuat prestasi luar biasa di kancah internasional karena mendapat dukungan yang sesungguhnya dari lubuk hati terdalam warga Indonesia.
SELESAI
(sebuah perenungan ketika menanti final piala AFF dimana Indonesia akan melawan Malaysia. Jadi, Kita nonton bola dan support timnas karena memang suka dan sadar, atau karena tanpa sadar media massa membentuk mental Kita?)

Akhirnya LULUS Ummi....

Alhamdulillah, sekian lama menunggu masa-masa bahagia ini, akhirnya lulus juga dari kampus tercinta yang telah menorehkan banyak perubahan bagi hidupku....Waaah mestinya memang 4 tahun luliusnya, tapi jadi 5 tahun, itu karena aku harus mengabdikan diri terlebih dahulul menjadi Presiden Mahasiswa...


Tapi....Gak maslah kalaupun lulus 5 tahun, yang terpenting ku telah melewati masa-masa di perkuliahan jenjang S1. sekarang saatnya berburu kembali beasiswa untuk s2. 
Yah masa depan telah menunggu, satu langkah menuju Menteri Luar Negeri akan segera tercapai, nah inilah saatnya aku memulai pertarungan selanjutnya...YAKINNNNN...Go A Head Brother!:-)

Foto: Dari kiri ke kanan. M.Isa Ibnu Sakoy, Abdurrahman Hafid, Jajang Nurjaman dan Ahmad Hilal Fawzie

The Influence of Human and Institutional Capacity Development: Indonesia Program toward Education in Banten Province

By: Mr Abdurrahman El-Hafid
Banten is a province that is growing and continues to improve its quality as a province near the capital of the State of Indonesia, Jakarta. The development of the province focuses on several areas that are being cultivated to become a model province typical offerings. One of the fields being worked by every government service is the field of education.
In Banten province, public education is still not equitable, seen by the small number of community participation for continuing education to higher education, especially to college in all districts and cities in Banten Province. On this basis the participation of all parties needed to resolve the problems of education in the province of Banten.
Apart from government, educational institutions must also have a role in responding to this problem. One way is to increase human resources the teachers at all levels of education, especially in higher education. As an assistant lecturer at universities and lecturers in private universities in the offerings, I highly appreciate the development of education in the offerings, but there are some things I still want to continue to help to develop it. I really hope to learn to see the developed countries in the implementation of education, both system and human resources.
The training program offered by USAID into concrete solutions for our professors who want to continue to develop our capabilities in the area. We hope to get a lot of knowledge and experience after undergoing our master of education program in the United States, let alone America is one among the developed countries which have very good education. This is extremely helpful for us who come from areas to be able to join in this training program.
In addition, the solution that I want to offer after joining this training program is to establish an institution or community improvement and development of skills of teachers and lecturers in the province of Banten, which facilitates the teaching staff to be able to improve their ability in their respective fields. If possible, they also can continue their education levels to master and doctorate programs in foreign universities for free to also participate in this program.
In conclusion, this training program is very influential for my future and sustainability of the province of Banten. Because now I continue to be a pioneer in improving education in the province of offerings including control of government policy in the budget for education. I continue to open cooperation with various parties to help us in the province where the Jawara to power so we could enjoy a proper education like everyone else. We very sincerely hope to join in this training to realize the dream of our great.

KETEGARAN, KUNCI MENGALAHKAN STRATEGI MUSUH



(Belajar dari Al-Khabbab bin Arats)
Oleh: Abdurrahman El-Hafid

“Diantara orang-orang mu’min terdapat pahlawan-pahwalan
yang telah menepati janjinya dengan Allah.” 
(QS. Al-Ahzab : 23)

Al-Khabbab bin Arats, seorang  pandai  besi  yang juga lihai membuat baju dan peralatan perang kemudian ia jual di pasar-pasar pinggiran kota Mekah saat itu. Al-Khabbab, satu di antara dua puluh sahabat yang mengakhiri hidupnya dengan jalan kesyahidan adalah sosok yang disebutkan dalam sejarah sebagai seorang Guru Besar Pengorbanan dan Kesabaran. Jadi kalau ada satu Fakultas di dunia ini bernama Fakultas Pengorbanan dan Kesabaran, maka Al-Khabbab lah Guru Besarnya pada fakultas tersebut. Mungkin juga mahasiswanya adalah Siti Masithoh, tukang sisir Fir`aun yang direbus di atas tungku yang besar hanya gara-gara ketika sisirnya jatuh, ia mengucapkan nama Allah kemudian fir`aun murka kepadanya. Begitu juga mungkin dengan Bilal bin Rabah, yang walau dikubur hidup-hidup, lisannya masih menyebut, Ahad...Ahad…Ahad..!!!.
Beginilah kalau kita mengingat mereka, para Guru Besar dan mahasiswa di Fakultas Pengorbanan dan Kesabaran. Mereka seolah hadir menghiasi kisah yang menambah khazanah keyakinan kita untuk selalu menghadapi segala sesuatunya dengan sabar dan mengingat Allah.
Marilah kita melihat bagaimana kisah inspirasi yang mengantarkan Al-Khabba menjadi seorang Guru Besar pengorbanan. Al-Khabbab, yang tidak pernah alfa dalam hidupnya menemani Rasulullah dalm berperang. Dia juga yang mengajarkan Fathimah binti Khattab belajar Al-Qur`an. Ia tidak pernah lelah untuk selalu berjuang di jalan Allah, mencinta amal dan merindukan syurga. Jadi, sangatlah wajar pengorbanan Al-Khabbah yang begitu besar dibalas dengan kenikmatan Syurga.
Suatu ketika, karena kecintaannya terhadap Rasulullah, akhirnya Al-Khabbab dibenci oleh para kafir Quraisy. Kebencian mereka mengantarkan Al-Khabbab menjadi seorang yang selalu mendapatkan intimidasi dan siksaan, termasuk pada saat orang-orang kafir menginginkan agar Al-Khabbab dibunuh saja agar dapat menghentikan semangatnya dalam menyebarkan serta mengajarkan Islam. Namun, bukan Al-Khabbab namanya kalau ia mundur dari ancaman, itu berarti kalah.
Suatu ketika, pada saat orang-orang kafir Quraisy itu datang ke rumah Al-Khabbab, kemudian melihat banyak besi-besi yang Al-Khabbab buat untuk baju besi dan peralatan perang, mereka ambil lalu mereka panaskan sampai besi-besi itu memerah dan mengeluarkan hawa panas dan tak terkira. Kemudian orang-orang kafir itu menaruh besi-besi panas ke kaki dan tangan Al-Khabbab, namun Al-Khabbab terus tersenyum dan menahan rasa sakitnya. Melihat ketegaran Al-Khabbab, orang-orang kafir Quraisy itu semakin tak terkira kesalnya bukan main, akhirnya meminta bantuan Ummi Anmar, yang tidak lain adalah tuannya Al-Khabbab. Lalu Ummi Anmar mengambil besi panas itu kemudian dia letakkan di atas kepala tepatnya ubun-ubun Al-Khabbab, seketika Al-Khabbab merasa sangat kesakitan, namun tetap Al-Khabbab beruisaha tenang dan menahan rasa sakitnya agar Ummi Anmar dan para Algojonya tidak tertawa puas kalau melihat Al-Khabbab malah teriak kesakitan. Ia berusaha menahan itu semua dengan kesabaran dan ketegaran yang mengantarkan kepada frustasinya musuh-musuh Al-Khabbab.
Subhanallah, Al-Khabbah mengajarkan kita sekelumit dari kisahnya untuk menjadi seorang yang tegar dan sabar. Mungkin dengan menyimak kisah tersebut seolah Al-Khabbab mengajak kita untuk masuk ke salah satu jurusan di fakultas pengorbanan dan kesabaran untuk menjadi sarjana di bidang pengorbanan dan kesabaran.
Hikmah yang kita bisa ambil adalah bagaimana ternyata ketegaran menjadi sebuah strategi jitu untuk mngalahkan serta menghancurkan musuh – musuh kita atau mereka yang membenci kita. Ketika mereka berusaha membabi buta untuk menjatuhkan kita, maka ketegaran adalah kuncinya. Mereka akan merasa bahwa kita lemah tidak bisa melawan mereka atau membalas fitnah mereka, namun sesungguhnya kita adalah kemenangan yang dibungkus dengan ketegaran. Mereka yang selalu hidupnya diwarnai dengan ketegaran, maka mereka adalah pemenang yang sesugguhnya. Mereka adalah bukan musuh kita, tapi ladang kita untuk beramal. Kalaupun kita memiliki kekurangan dan kekhilafan, sesungguhnya yang mengoreksi kita juga tidak lebih baik dari kita, karena mereka juga manusia biasa.
Bersabarlah, ketegaran akan manyertaimu! Tegarlah, kemenangan akan mnyertaimu!


BERPIKIR DAN BERJIWA BESAR; Membedah pemikiran David J. Schwartz



Oleh: Abdurrahman El-Hafid*

“Anda adalah apa yang Anda pikirkan mengenai diri Anda. Berpikirlah bahwa diri Anda lebih besar, maka Anda pun menjadi lebih besar.”
(David J. Schwartz)


Berpikir dan berjiwa besar, buku terjemahan yang berjudul asli The Magic of Thinking Big adalah buku yang diklaim sebagai buku #1 terlaris dunia yang cukup melambungkan nama David J. Schwartz sebagai seorang motivator yang dapat mempengaruhi banyak orang yang hidup di atas muka bumi ini untuk dapat merubah dunia dengan cara berpikir baru ala Schwartz.
Sebenarnya apa yang sesungguhnya menjadi kekuatan buku ini hingga begitu sensational di mata pembacanya, khususnya bagi para motivator di seluruh pelosok negeri hingga para members dari sekian MLM (Multi Level Marketing) menjadikan buku Schwartz sebagai buku panduan wajib yang harus dibaca oleh para down-line mereka.
Testimoni yang berseliweran atas penerbitan buku ini menjadi teramat berharga bagi marketing produk dari buku ini, terbukti telah dicetak berulang kali sampai  jutaan ribu copy dari buku ini terjual dengan terjemahan beberapa bahasa di seluruh dunia. Beginilah memang kalau sudah jodoh, Schwartz tanpa harus lelah menawarkan bukunya untuk dibaca orang dengan berkeliling dunia, tapi sudah lebih dulu pemikirannya berada di jiwa setiap orang tanpa harus hadir di tempat tersebut, inilah apa yang disebut dengan invisible marketing dalam teorinya.
“14 kalimat pusaka ala Schwartz”, itulah istilah yang penulis pinjam untuk membahasakan pemikiran Schwartz. Dalam 14 Bab Schwartz mengemukakan pendapatnya tentang sebuah mimpi yang dapat terealisasi, ketidakmungkinan yang mungkin terjadi, kelemahan yang menjadi kekuatan, menjadi nomor satu bagi petarung yang merasa lemah, menjadi pemimpin perang walau seorang prajurit, membumihanguskan segala teori kegagalan, ketidakmampuan dan ketidakmungkinan. Yah, buku ini memang seolah hadir dengan pembahasan yang dekat sekali dengan keseharian kita, pembahasan sederhana dengan solusi yang teramat tinggi untuk kita pikirkan, namun dapat terpikirkan dan terpecahkan oleh tempurung kepala Schwartz.
14 kalimat pusaka itu adalah: 1. Percaya Anda dapat berhasil, maka Anda pun akan benar-benar berhasil. 2. Sembuhkan diri Anda dari dalih penyakit kegagalan.3. Bangun kepercayaan dan hancurkan ketakutan. 3. Bagaimana berpikir besar. 5. Bagaimana berpikir dan bermimpi secara kreatif. 6. Anda adalah apa yang Anda pikirkan mengenai diri Anda. 7. Atur lingkungan anda: Gunakan yang kelas satu. 8. Jadikan sikap Anda sekutu Anda. 9. Berpikir benar tentang orang lain. 10. Dapatkan kebiasaan bertindak. 11. Bagaimana mengubah kekalahan menjadi kemenangan. 12. Gunakan tujuan untuk membantu Anda bertumbuh. 13. Bagaimana berpikir seperti pemimpin. 14. Bagaimana menggunakan mukjizat berpikir besar di dalam situasi kehidupan yang paling kritis.[1]

Bahasa yang Schwartz sampaikan begitu sederhana, namun mengapa seolah kalimat-kalimatnya menjadi senjata pamungkas dalam pertarungan melawan musuh bernama kegagalan, malas dan ketidakmungkinan. Ternyata memang Schwartz mengubah cara berpikirnya melalui pendekatan “Mukjizat”, bahasa Schwartz dalam bukunya. Namun istilah ini sangat membumi walaupun ia pinjam dari bahasa langit, yaitu yang lahir dari nilai ketuhanan. Dari 14 kalimat pusaka tersebut, mari kita lihat beberapa di antaranya sebagai bahan diskusi kita sekaligus mengulang kembali memori kita tentang motivasi hidup.

Percaya Anda Dapat Berhasil, maka Anda pun akan Benar-benar berhasil.
Yang ingin Schwartz sampaikan pada pembahasan ini adalah tentang sebuah keyakinan, keyakinan tentang sebuah keberhasilan, keberhasilan yang didasari oleh keyakinan. Begitupula yang ditulis Schwartz, ia memberikan penjelasan bagaimana sesungguhnya kepercayaan itu bekerja. Menurut Schwartz, pada saat kita membangun kepercayaan kita tentang kemampuan untuk melakukan sesuatu, contohnya “Saya dapat melakukannya” dan benar-benar meyakininya, maka secara langsung “bagaimana melakukannya” pun berkembang secara otomatis. Jadi pada kesimpulannya, kalau kita belum memulai sesuatu dengan keyakinan kita, maka sesuatu itu tidak akan terjadi karena kita tidak mengetahui bagaimanan cara melakukannya, namun pada saat kita memulai Sesutu dengan keyakinan, maka secara otomatis kita akan mengetahui bagaimana cara melakukan apa yang kita inginkan.
Pendapat ini memang tepat diserangkaikan dengan beberapa pendapat dalam teori-teori membangun kekuatan berpikir, bahwa kekuatan berpikir pada prinsipnya adalah membangun kekuatan kita dari cara berpikir biasa kepada cara berpikir luar biasa yang orang lain anggap sebuah hal yang mustahil untuk dikerjakan, atau hanya sebuah lintasan pikiran saja[2].
Banyak orang yang terpuruk ketika mereka tidak tau apa yang mereka lakukan, karena mereka tidak memiliki obat kekuatan berpikir tersebut. Sebab memang kekuatan berpikir lahir dari sebuah sikap kritis terhadap gejala perubahan, karena memang semuanya akan berubah kecuali perubahan itu sendiri[3]. Dari sinilah ketika menilai bahwa Schwartz adalah Agent of Change yang dapat menawarkan solusi bagi permasalahan setiap orang tentang kehidupan dengan cara berpikir tersebut.
Sebagian dari kita memang terkadang berlebihan dalam menghadapi pemikiran yang sedikit berbeda, atau dalam kata lain kita malah sering “mengadili pikiran”[4] yang lahir dari track record seseorang yang negative, namun sesungguhnya buah pikiran mereka menjadi bersahabat bagi sebagian orang. Pada saat sebagian orang merasa bersahabat dengan apa yang diyakininya, maka mereka berhak memilih keyakinannya.
Buku Berpikir dan Berjiwa besar ini sangat menarik untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, khusunya bagi Anda yang merasa pada posisi paling terpuruk dalam hidup. Buku ini akan mengantarkan Anda pada puncak dari keberhasilan yang sesungguhnya.


“Cara Terbaik Memprediksi Masa Depan adalah
Dengan Menciptakan Masa depan”
-Peter Drucker-




* General Manager ZERO Training Indonesia, Direktur English Training Service Global Institute, Dosen STIB Banten Raya dan STAI Darul Qolam, Alumni English Programs for Internationals University of South Carolina, U.S.A.
[1] David J. Schwartz, Berpikir dan Berjiwa Besar (Jakarta: Binarupa Aksara, 1996)
[2] Abdurrahman El-Hafid dan M.Isa, The Power of Motivation (Serang: ZERO Publishing, 2009), p.8
[3] Rijalul Imam, Menyiapkan Momentum ( Jakarta: KAMMI Pusat, 2008), p.55
[4] Ahmad Gaus AF, Api Islam Nurcholish Madjid; Jalan Hidup Seorang Visioner (Jakarta: KOMPAS, 2010), p.228

IELSP Scholarship (Deadline, January 10, 2011)

IIEF holds an Indonesia English Language Study Program (IELSP). It is a program that offers a chance to enroll in English Language Courses at prominent universities in the United States for a period of 8 (eight) weeks.
 
The goal of this program is to improve the ability of participant’s English language, especially in English for Academic Purposes. Other than that, participants will have the chance to learn intimately the people and culture of the United States. IELSP participants will join the immersion program where they will mix with other participants from other nations and countries. Within this program, participants will not only learn the English language, but they will also join various cultural programs that will enrich their experience. 

General Requirement
  • Participant age must be 19 – 24 years old. Participant must be an active students for bachelor degree in their 5th semester above at any universities all over Indonesia and have not yet declared pass or in the course of degree completion.
  • Participant must have posses good ability in the English language with a good TOEFL® International or TOEFL® ITP with a minimum 450 (not a Prediction Test)
  • Participant must also have good academic achievement Active in lots of activities and organization
  • Have full commitment to return back to Indonesia after completing this program.
  • Do not have experience of previous study in USA or other countries except Indonesia
  • Possesses these personal qualities: active, independent, responsible, confident and open minded
  • Master the skills for computer
 
Registration Schedule
Registration form need to be sent to this address:
IELSP
Indonesian International Education Foundation (IIEF)
Menara Imperium Lt. 28 Suite B
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Kuningan
Jakarta 12980
(harap menuliskan IELSP di sudut kiri atas amplop)
 

MISTIK ALA SANTRI


 Yang telah berlalu tidak akan pernah kembali lagi berulang dalam waktu yang sama persis. Namun, ada hikmah yang layaknya dapat diambil sebuah `ibroh dari setiap kejadian yang telah berlalu.
Pesantren adalah cita-cita saya sejak duduk di bangku sekolah dasar/madrasah ibtida`iyah. Semenjak itulah saya mulai mencari informasi tentang pondok pesantren. Akhirnya saya menemukan beberapa nama pesantren yang pernah diliput di siaran TV ketika bulan Ramadhan, yah bulan Ramadhan tayangan TV lebih banyak menyiarkan hal-hal yang Islami, termasuk liputan pendidikan di pondok pesantren. Pada saat itulah saya menemukan pondok pesantren Modern Darussalam, Gontor. Pesantren yang membuat saya jatuh cinta untuk menimba ilmu dari Negeri para pecinta ilmu. Jadilah Gontor sebagai cita-cita masa depanku.
Pada akhirnya menjelang kelulusan dari Madrasah Tsanawiyah, saya mengutarakan keinginan untuk meneruskan pendidikan ke Pesantren Gontor. Namun pada saat itu keluarga saya sedang mengalami krisis ekonomi dan tidak mampu untuk membantu niat saya ke pesantren. Namun, hati ini terus bersemangat dan akhirnya saya diajak untuk berkunjung ke daerah Serang, itu perjalanan pertama kalinya.
Takdir berkata laian, niatan untuk ada di kota santri seperti Gontor yang berada di Jawa Timur, akhirnya Allah takdirkan untuk berada di Banten, dari ujung timur ke ujung barat pulau Jawa. Di Seranglah saya menemukan Pondok Pesantren yang konon katanya dipimpin oleh seorang ulama terkemuka yang pernah menjadi Guru Bahasa Arab di Negeri Arab, tetapi ia asli orang Indonesia. Ialah Abah Hasuri Thohir, nama lengkapnya KH.Tb.A.Hasuri Thohir, pimpinan Pondok Pesantren Salafiy Ath-Thohiriyah. Dari sinilah cerita indah menjadi seorang santri dimulai.

1.   Air Mata Perpisahan
Hari pertama yang harusnya keberangkatan saya ke pesantern diantar keluarga layaknya orang lain, tapi saya berangkat hanya sendiri. Keberangkatan saya penuh dengan haru, karena saya tau kalau Ummi tidak sanggup untuk menyewa mobil untuk mengantarkan saya ke Serang. Inilah perjalanan hijrah pertama kali saya mulai merintis kehidupan yang keras. Keharuan saya juga karena pada malam sebelumnya ibu saya menangis karena saya sudah larut malam belum pulang, padahal saya paginya harus berangkat ke Serang. Ibu saya sangat hawatir dicampur kesal. Pada saat itu saya ingin menghabiskan masa-masa perpisahan dengan kawan-kawan yang lama, dalam organisasi, sepak bola dan lain-lain. Tapi ketika itu saya dimarahin habis-habisan oleh ibu saya karena merasa kesal sudah tau cari uang sulit tapi saya malah bandel. Padahal saya bukan bandel, hanya ingin perpisahan dengan teman-teman  saja. Wajar ketika ibu saya menangis dan marah, dan saya menghargai betul. Tapi peristiwa itu benar-benar menjadi peristiwa yang tidak bisa dilupakan sampai sekarang.  Pagi harinya saya menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk berangkat ke Serang dan itulah saat-saat komitmen untuk menuju kesuksesan dimulai, do`a ibu saya yang tulus, beserta keluarga mengantarkan saya  dalam meraih cita-cita tertinggi. Sepajang perjalanan ke Serang, air mata saya terus mengalir tanpa harus menghiraukan orang-orang di sekitarnya.
Minggu berikutnya keluarga saya baru  bisa datang ke pesantren. Walaupun saya tau kalau ia pinjam uang dari saudara untuk bias dating ke pesantren, apalgi saat itu saya harus juga membayar uang bangunan yang nuggak di MAN 2 Serang. Ya Allah…beginilah mencari ilmu.

2.   Masa-masa yang menentukan
Tibalah saya menjalani hari pertama di pesantren Ath-Thohiriyah Kaloran Serang-Banten. Minggu pertama dilewati dengan penuh suka dan duka, karena itu kali pertama saya merantau. Dan pada minggu pertama akhirnya Keluarga saya berkujung ke pesantern, saya sangat bergembira dan haru. Setelah melewati setengah bulan, saya mulai mengatur hidup di sana, dari mulai keuangan sampai waktu belajrnya di atur dengan ketat.
Saya mulai disibukkan dengan jadwal pesantren dan sekolah. Saya benar-benar bersemangat da;am belajar. Memulai aktivitas keseharian  pukul 3 pagi dengan mandi kemudian qiyamullail, belajar dan shalat shubuh. Setelah shubuh saya mengaji sampai jam setengah 7, langsung beres-beres untuk berangkat ke Sekolah. Jam 7 saya sudah sampai di Sekolah, di MAN 2 Serang. Kemudian saya pulang sekolah tepat pukul 14.00 siang dan tiba di pesantren pukul 14:30. Kemudian istirahat melepas lelah sambil baca-baca buku sampai pukul 15.30 dan langsung mandi terus shalat Ashar berjama`ah. Setelah shalat Ashar saya sudah terbiasa menghafal dan membaca surat Yasin, Al-Mulk dan Al-Waqi`ah sebagai amalan yang didawamkan. Setelah itu saya bersiap-siap dan membuka kitab yang mau dikaji sorenya, tepat pukul 16:30 saya mulai mengaji kitab kuning sampai pukul 17 : 30. Sambil menunggu waktu maghrib saya makan sore terlebih dahulu, kalau senin-kamis yah saya menunggu sambil berbuka. Setelah shalat maghrib saya langsung mengaji samapai waktu Isya, setelah Isya saya mulai lagi mengaji dari pukul 20:00 sampai pukul 21:00 dan istirahat sebentar. Tepat pukul 21:30 saya sudah harus muthola`ah (istilah sntri untuk mempersiapkan bahan bacaan yang akan dikaji) bersama ustadz untuk jadwal pengajian ba`da shubuh keesokan harinya sampai pukul 22:30. Setelah itulah saya baru memulai membuka buku untuk sekolah dan mengerjakan tugas-tugas. Terkadanag samapi larut malam, pernah saya sampai tidur pukul 02.00, dan pukul 03.00 harus sudah beraktivitas kembali.  Yah..begitulah saya sejenak mengingat kembali masa-masa itu.

3.   Ada Cinta di hari jum`at
Pada hari Jum`at biasanya santri di Pondok Pesantren Ath-Thohiriyah melaksanakn shalat di luar pesantren, maklum lah pesantren salafiy yang fasilitasnya terbatas. Kami memilih di antara dua Masjid terdekat, yaitu Masjid Muhammadiyah, dan Masjid NU, begitulah dulu kami mneyebutnya, karena pengurus Masjidnya yah orang MD dan NU. Hari itu adalah masa-masa awal saya di Pesantren, jadi saya masih ikut budaya santri di sana. 
Nah ceritanya waktu itu saya baru pulang shalat Jum`at di Masjid NU, dan setibanya saya di kamar, ko kayaknya kamar ada yang berubah, ruangannya lebih rapih dari yang sebelumya. Saya heran dan merasa bingung apa yang sudah terjadi, padahal waktu saya tinggal kamar saya sedikit acak-acakan. Saya mencoba melupakan kejadian itu, ya sudah saya lanjutkan aktivitas sya. Namun, saya sempat dikejutkan ketika saya membuka kunci lemari saya, saya menemukan ada amplop, saya penasaran untuk membuka amplop tersebut, kemudian saya buka amplopnya, dan ternyata isi suratnya adalah ungkapan hati seseorang untuk saya, kagetnya bukan main, ko bisa yah..
Peristiwa itu saya sembunyikan dari teman-teman saya yang sekamar, anmun akhirnya saya menceritakannya kepada salah seorang senior di pesantren itu, saya berani cerita karena yah saya anggap dia dapat dipercaya. Akhirnya saya ceritakan kejadian yang saya alami, dan anehnya sahabat saya itu tersenyum dan seperti menyimpan sebuah rahasia. Nah..setelah itu ia menceritakan kebiasaan santri di pesantren itu. Ia bilang bahwa biasanya setiap hari jum`at pada saat santriwan berangkat ke Masjid untuk shalat Jum`at, santriwati mengecek takut ada santriwan yang tidak shalat Jum`at, makannya setiap hari Jum`at santriwati diijinkan untuk ke Asrama santriwan. Banyak juga santriwati yang memanfaatkan kesempatan itu, ada yang cari-cari info dimana kamar santriwan pujaan hatinya, dan bagi yang sudah menemukan biasanya dibersihkan kamarnya, ditarh makanan, bahkan ada juga yang mebgirim surat, yah kasusnya seperti saya ini.
Namun banyak juga santriwan yang memanfaatkan kesempatan itu. Ada santriwan yang sebelum shalat Jum`at itu masak atau ngeliwet, yah bahasanya seperti itu ngeliwet. Lalu ia tuliskan di sebuah kertas yang kurang lebih seperti ini redaksinya “Afwan, nanti kalau dah masak nasinya, tolong diangkat yah, piringnya ada di belakang.SyukronJ”. Nah ketika pulang dari Masjid si santriwan mampir sebentar di warung Nasi untuk beli lauk, sampai di kamar Nasi dah matang, sudah dipindah ke piring atau namapan, dan tinggal makan. Hah…waktu mendengar cerita itu saya benar-benar tertawa puas, sampai saya tidak kuat lagi mendengar cerita selanjutnya. Begitulah ada cinta di hari Jum`at.
4.   Liwet oh Liwet!

Ini yang beda, dari sekian banyak pengalaman, pengalaman yang satu ini juga tidak bisa dilupakan, sebab buat santri salafiy aktivitas `nge-liwet` ini teman yangs selalu ada setiap hari. Aktivitas yang menyenangkan, dan memupuk persaudaraan. Kalau istilah inidianya yah “Kabhi Kushe Kabhi Gum” kadang suka, kadang duka, namun tetap bersama.

Saya baru tau kalau ngeliwet itu juga harus menggunakan tekhnik. Sebab kalau tidak memiliki tekhnik, berarti bukan ngeliwet namanya, tapi masak Nasi biasa ja. Ciri-ciri ngeliwet sukses yang di bawah wadah tempat nasinya itu harus ada keraknya, nah itu baru disebut sukses dalam ngeliwet. Kalau jadi nasi semua dan tidak meninggalkan `kerak` berarti gagal. Kerak itu nasi yang agak keras yang sedikit menempel pada bagian wadah untuk memasak.

Ini pengalaman menarik bagi saya, sebab beginilah santri diajarkan untuk mandiri hidup merantau sambil belajar. Walaupun ada unsure ekonomisnya alias ngirit. Kalau beli nasi d warung katanya sih mahal dan Cuma dapat sedikit, tapi kalau bawa beras dari rumah terus ngeliwet, itu lebih irit dan lebih puasss makannya.

Saya juga pernah merasakan kiriman dari orang tua terlambat, dan makan nasi liwet hanya dengan garam, bahkan pernah dengan cabe yang dipetik dari pohon yang ada di pesantren. Pernah juga sarapan menggunakan plastic bekas sambal yang tadi malam, tapi masih ada sisa-sisa sambal yang menempel, akhirnya saya masukkan nasi tersebut ke dalam plastic, dan saya remas-remas. Warna nasi itu sedikit berubah warna menjadi kemerah-merahan, dan jadilah sarapan pagi saat itu. Namun, indah diri ini mengenangya!




5.   Ramadhan di Negeri Santri

Hari-hari terindah di pondok pesantren adalah ketika bulan suci Ramadhan datang. Subhanallah, keharuan akan selalu meresap ke dalam jiwa manakala Ramadhan dating. Yah..itulah yang pernah saya alami ketika Ramadhan dating. Di pesantren akan terasa nilai Ramadhannya, karena lingkungannya sangat mendukung. Suara santri yang sedang tadarus Al-Qur`an, ngaji pasaran santri yang menjadi agenda tahunan, buka puasa bersama, sahur bersama menjadi aktivitas yang menyenagkan saat Ramadhan tiba.

Apalagi ketika sudah mulai mendekati akhir Ramadhan, santri sudah mulai sepi karena libur `Iedul fitri. Hanya tersisa sntri-santri yang rumhnya dekat dari pesantren dan paling jauh dari pesantren, seperti di luar pulau. Disitulah masa-masa terhikmat menjalani Ramadhan. MAsih sangat kental diingitana kalau mengingat masa-masa itu, indah sekali.
Sebelum pulang ke rumah biasanya saya mampir dulu ke Pasar Rau, untuk membeli sarung dan peci untuk shalat `Iedul Fitri. Dan betapa indahnya perpisahan terakhir dengan kawan-kawan dan para ustadz yang masih ada di pesantren, haru dan bersahabat. Ya Allah hamba ingin menikmati masa-masa itu kembali.

6.   Jari Ustadzku masuk mulut

Ini adalah pengalaman yang sangat berpengaruh dalam hidup saya untuk memperbaiki bacaan Al-Qur`an saya. Saat itu saya sedang mengkaji kitab tajwid “Hidayatul Mustafid” yang diajarkan oleh salah seorang Ustadz di Pesantren tempat saya nyantri, namanya Ust.Tufli Jauhari. Ketika itu beliau sedang mengajarkan makhraj huruf, dan pada saat penyebutan huruf `Ha kecil` saya kurang bisa, dan akhirnya saya disuruh maju ke depan, dihadapan puluhan santri saat itu, dan saya disuruh membuka mulut, lalu tangan jari telunjuk Ustadz saya masuk dan menatuhnya tepat di dekat kerongkongan saya, dimana tempat keluar huruf tersebut sambnil sang ustadz berkata “Ning kene keh metune!”. Luar biasa, wajah saya memerah karena di depan puluhan santri diperlakukan demikian. Namun, hati ini terus berdo`a agar meluruskan niat untuk mengkaji ilmu agama. Kejadian itu membuat saya belajar lebih giat, dan akhirnya usaha itu berhasil.

7.   Mistik Ala Santri

Hari itu saya sedang berdua di kamar dengan seorang teman yang lebih tua satu tahun tinggal di pesantren. Ia asli orang Serang, tepatnya doi Ciomas. Saat itu menjelang tengah malam tiba-tiba kami yang sednag mengobrol asyik dikagetkan dengan sikap sahabta saya yang satu itu. Ia menyuruh saya menutup pintu dan mematikan lampu kamar. Keadaan sangat gelap saat itu, dan saya pun dalam keadaan takutnya bukan main. Apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat saya, ia mulai merintih kedinginan dan suhu badannya mulai terasa panas. Tiba-tiba suaranya berubah menggaung seperti macan dan berbicara pada saya, “saya kakek dari si fulan…” hanya itu yang saya ingat karena saat itu kondisi badan saya benar-benar gak karuan, sulit untuk menggambarkannya. Mencekam dan mengerikan. Kejadian itu kurang lebih sekitar 10 menitan, namun rasnya seperti puluhan tahun di penjara china.Lama sekalai, saya saja ingin cepat-cepat selesai.

Setelah beberapa menit dilewati akhirnya suasana tenang kembali, dan ternyata sahabta saya keesokan harinya sakit. Teman-teman saya yang lain bilang kalau di pesantren banyak juga orang yang nyambet atau memanggil arwah orang yang sudah meninggal. Inillah sepenggal kisah mistik yang saya alami di pesantren. Apalagi konon kabarnya pesantren saya dulu itu adalah sebuah rumah sakit belanda. Jadi hawa mistisnya begitu terasa ketika malam hari datang.


8.   Surat dari sang kakak

Orang yang sedang menuntut ilmu itu sangat banyak ujian dan cobaannya, salah satunya dari kondisi keluarga. Dan itu saya alami ketika kelurga saya sedang ditimpa masalah yang lumayan besar. Siang itu saya mendapatkan kiriman dari keluarga, namun ada yang berbeda, kali ini kiriman tersebut bersama sepucuk surat pendek yang ditulis oleh kakak perempuan saya, atau orang betwai bilang dengan sebitan `mpok`.

Kemudian saya membaca surat tersebut, yang isinya kurang lebih sebgai berikut:

“Teruntuk : Adinda tercinta
Abdul Rohman
di-
Serang
Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Adik, semoga engkau dalam keadaan baik-baik saja nun jauh di sana. Begitu juga kami di rumah. Begitu juga Mpo dan Ummi. Namun, berbeda dengan keadaan Baba, saat ini di rumah Ummi dan Baba selalu ribut, dan kemarin Baba berniat mau menceraikan Ummi. Omang yang sabar dan rajin belajar yah di sana, kami hanya bisa mengharapkan omang.
Kami yang mencintaimu!”
Tidak terasa ketika membaca surat ini air mata mengalir, serasa ingin segera kembali ke rumah dan memeluk mereka, untuk hadir dalam kersamaan menghadapi masalah. Surat inilah yang sampai saat ini selalu menjadi motivasi, sampai sampai saya menempel foto keluarga dibalik lemari kitab. Saya selalu melihatnya sebeleum berangkat mengaji, sekolah dan belajar. Itulah motivasi hidup saya, ingin membahagiakan orang-orang yang saya cintai.

9.   Gatal ‘penyakit santri’

Kalau yang satu ini bukan hanya santri salafiy, santri modern juga sama terkena penyakit ini. Kata orang sih kalau belum pernaha mengalamai penyakit gatal ala santri, itu belum afdhol nyantrinya. Bahkan ada yang ekstrim bilang, itu adalah cirri-ciri santri, jadi kalau gak punyakit gatal yah itu bukannya santri. Padahal mestinya orang yang pesantren yang lebih tau tentang kebersihan dalam agama Islam. Sebenarnya sih ghak ada hubungannya orang pintar di pesantren dengan penyakit gatal-gatal. Ini juga yang harusnya dirubah di kalangan santri. Apa karena gak mau jujur yah kalau memang di pesantren kebersihannya kurang dijaga.

Terlepas dari itu semua, ada pengalaman saya yang menarik tentang penyakit ini. Dulu saya pernah mengalami penyakit gatal-gatal ketika di pesantren. Nah penyakit ini luar biasa dari jenis penyakit gatal, sampai-sampai saya menemukan obat penawarnya di Lampung Selatan. Itu juga dapat info dari rekan saya. Nah dah bertahun-tahun saya mengalami penyakit tersebut, karena kadang-sembuh, terkadang kambuh.

Begitulah santri melewati masa-masa di pesantren ujian demi ujian selalu mewarnai perjalanan santri. Subhanallah bagi para jebolan pesantren ,setidaknya pengalaman-penghlaman di atas juga pernah  dialaminya.

10.     Bahasa Arab VS Bahasa Inggris

Pada saat saya di pesantren, jujur kalau saya sudah jatuh cinta sama yang namanya bahasa Arab, gimana tidak, setiap hari yang dilihat, didengar, dibaca, dikaji yah bahasa Arab. Sampai-sampai dibilang `ngelotok` bahasa Arabnya. Saat itu juga sebenarnya saya ingin sekali menguasai bahasa Inggris, karena memang awalnya kepeingin pesantren di pesantren Modern Gontor, yang bahasa Arab dan Inggrisnya dipelajarinya bersamaan. Namun, di pesantren salafiy seperti Ath-Thohiriyah jangankan dipelajari, malah terkadang masih saja ada yang mengatakan bahasa Inggris itu bahasanya orang kafir. Tapi tidak semua yang berkata demikian.

Akhirnya, kecintaan saya terhadap bahasa Arab sudah diimbangi dengan bahasa Inggris, itu bukan berarti saya tidak setia dengan bahasa Arab, namun untuk menyeimbangkan dan terus menggali banyak ilmu.

















 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates